Tuesday, July 1, 2014

PUPUK ORGANIK CAIR AEROB

Salam Tani !! Beberapa bulan yang lalu maspary telah menulis beberapa artikel tentang pembuatan pupuk organik cair secara anaerob di blog Gerbang Pertanian ini. Pada tulisan kali ini maspary akan memosting tentang cara pembuatan pupuk organik cair secara aerob.

 

Apa perbedaan antara aerob dan anaerob ?

Sesuai dengan artinya, aerob berarti membutuhkan udara sedangkan anaerob tidak memerlukan udara. Pembuatan pupuk organik cair secara aerob biasanya dibuat secara terbuka dan terkadang ada penambahan udara dengan menggunakan aerator. Sedangkan pembuatan pupuk organik cair secara anaerob dilakukan dengan cara menutup tempat fermentasi secara rapat agar udara tidak bisa masuk kedalam proses fermentasi.

 

Cara membuat pupuk organik cair secara aerob :

Bahan dan alat :

  1. Ember atau wadah dengan kapasitas 50 liter
  2. Aerator untuk aquarium dan selangnya
  3. Pupuk kompos atau pupuk organik padat lain sebanyak 5 kg
  4. Molase atau gula merah sebanyak 2,5 kg
  5. Mikroorganisme pengurai (sebaiknya ada kandungan jamur dan bakteri seperti BEKA) sebanyak 1 liter.

Cara membuatnya :

  1. Masukkan air kedalam wadah/ ember sampai setengah kapasitasnya
  2. Masukkan molase atau gula merah kedalam ember dan aduk hingga tercampur merata
  3. Masukkan mikroorganisme pengurai/ dekomposer/ BEKA kedalam wadah dan aduk secara merata
  4. Masukkan pupuk organik padat kedalam ember
  5. Tambahkan air sampai memenuhi wadah atau ember tapi jangan sampai luber
  6. Aduk-aduk hingga rata
  7. Masukkan ujung selang aerator pada dasar wadah/ ember dengan cara dibebani dengan batu.
  8. Nyalakan aerator selama 1 minggu dengan wadah / ember pada posisi terbuka
  9. Biarkan minimal selama 1 minggu setelah itu pupuk organik siap digunakan.

Cara menggunakan :

  1. Saring pupuk cair yang telah kita fermentasi dengan menggunakan saringan halus (kalau bisa menggunakan kain)
  2. Cairan yang kita peroleh kita gunakan untuk menyemprot tanaman dengan pengenceran 1 : 5 hingga 1 : 10. Maksudnya setiap 1 liter pupuk organik cair bisa kita encerkan dengan 5 liter sampai 10 liter air sesuai dengan jenis tanaman yang akan kita semprot.
  3. Selain disemprotkan pupuk organik cair tersebut juga bisa kita gunakan untuk kocoran tanpa penyaringan terlebih dahulu.

 

pupuk-orgaik-cair-aerob

Gambar : Pupuk organik cair yang sudah jadi (warna dan aroma tergantung dari bahan organik yang kita gunakan)

Semoga artikel ini yang berjudul cara membuat pupuk organik cair secara aerob ini bisa bermanfaat bagi kita dan bisa menghemat biaya produksi kita.

 

Sukses Petani Indonesia  !!

         Maspary

Thursday, June 26, 2014

BUDIDAYA LIDAH BUAYA DALAM POLYBAG

Salam Tani !! Keterbatasan lahan yang kita miliki tidak harus menghentikan kreatifitas kita dalam budidaya pertanian. Dengan lahan yang sempit kita bisa berusaha tani dengan menggunakan sistem polybag. Dengan menggunakan polybag, tanaman bisa kita kelola lebih mudah baik pemupukan, penentuan jarak tanam, pencahayaan dan pengendalian hama penyakit.

Lidah buaya merupakan tanaman yang serba guna. Lidah buaya bisa kita manfatkan dalam kehidupan sehari-hari baik sekala rumah tangga maupun untuk kebutuhan industri pabrik. Untuk kebutuhan rumah tangga lidah buaya bisa kita manfaatkan untuk pengobatan berbagai macam penyakit seperti penyakit mag (lambung), penyembuh luka, atasi luka bakar, untuk mengatasi herpes (dompo), atasi ketombe dll. Bisa juga kita gunakan sebagai bahan minuman segar seperti nata de coco.

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga lidah buaya tidak perlu dibudidayakan secara luas dilahan, tetapi cukup memanfaatkan lahan pekarangan saja dan kita budidayakan dalam polybag. Oleh karena itu kali ini maspary akan sedikit mengulas tentang budidaya lidah buaya dalam polybag di blog Gerbang Pertanian ini.

lidah-buaya-dalam-polibag

Ukuran Polybag

Sebenarnya ukuran polybag yang digunakan semakin besar akan semakin bagus untuk pertumbuhan tanaman. Akan tetapi semakin besar polybag akan semakin tidak efisien karena kita harus mengeluarkan biaya yang lebih besar baik untuk membeli polybag maupun untuk membeli media tanam. Menurut pengalaman maspary ukuran polybag yang paling minim bisa kita gunakan untuk budidaya lidah buaya adalah dengan diameter 20 cm.

Media Tanam

Media tanam untuk memenuhi kebutuhan hidup lidah buaya yang terbaik adalah tanah yang poros, oleh karena itu tanah yang akan kita gunakan untuk media tanam sebaiknya dicampur pasir. Perbandingan antara tanah, pupuk kandang dan pasir bisa kita gunakan 1 : 1 : 2.

Cara Penanaman

Cara penanaman lidah buaya cukup mudah tinggal kita ambil bibit lidah buaya (anakan lidah buaya yang masih kecil) lalu kita tanam seperti tehnik menanam tanaman yang lain. Kuncinya jangan terlalu dalam karena akan membuat bibit menjadi busuk dan jangan terlalu dangkal karena bibit akan roboh.

Pemupukan

Dari pengalaman maspary pemupukan bisa dilakukan dengan NPK atau pupuk oganik saja. NPK bisa diberikan dua minggu sekali dengan dosis 2 gr/ polybag. Jika menggunakan pupuk organik sebaiknya menggunakan pupuk organik cair saja.

Penyiraman

Tanaman lidah buaya tidak memerlukan air yang terlalu banyak. Pemberian air yang terlalu banyak justru akan membuat tanaman lidah buaya akan membusuk. Penyiraman dimusim kemarau (tidak ada hujan) cukup sehari sekali saja. Sedangkan di musim hujan tidak perlu penyiraman.

Penempatan/ Pencahayaan

Lidah buaya memerlukan cahaya dan panas yang penuh sepanjang hari oleh karena itu lidah buaya harus kita tempatkan pada lokasi yang lapang dan tidak terhalang. Dengan penempatan seperti itu lidah buaya akan mendapatkan cahaya dan panas yang cukup.

Panen

Panen perdana untuk lidah buaya bisa dilakukan setelah umur 6 bulanan. Pemanenan dengan cara memetik dengan pisau pada helaian lidah buaya yang paling tua (daun yang paling luar).

Pengambilan Gel

Pengambilan gel lidah buaya bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun menurut maspary yang paling mudah dengan cara membelah daun lidah buaya dan mengeruk gelnya dengan sendok.

Dilahan pekarangan boleh kita tanami dengan berbagai macam tanaman hias tetapi tidak ada salahnya jika kita juga membudidayakan tanaman lidah buaya dalam polybag. Karena lidah buaya ini sewaktu-waktu akan bisa kita manfaatkan untuk pengobatan pertolongan pertama. Lidah buaya ini bisa kita budidayakan sebagai apotik hidup.

 

Sukses Petani Indonesia !!

       Maspary

Friday, June 20, 2014

ZEOLIT BATU PEMBENAH TANAH

Salam Tani !!  Tanah merupakan aset utama dalam budidaya. Tanah sangat menentukan  tingkat pertumbuhan suatau tanaman. Karena begitu pentingnya peran tanah dalam dunia pertanian maka tidak heran kalau dalam kuliah pertanian ilmu tanah akan dipelajari minimal 6 bulan (1 semester). Dalam artikel kali ini maspary hanya akan membahas tentang tanah yang sakit dan bagaimana memperbaikinya menggunakan batuan zeolit.



Pupuk Zeolit 

Batuan Zeolit Sebagai Salah Satu Alternatif Bahan Pembenah Tanah

Kesuburan dapat digolongkan dalam tiga kelompok yaitu: kesuburan fisika, kimia dan biologi.
Untuk mengatasi menurunnya kesuburan tanah ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Termasuk dengan cara memberikan bahan pembenah tanah. Bahan pembenah tanah ini antara lain adalah batuan alami zeolit.
Batuan zeolit adalah mineral alami berbahan dasar kelompok alumunium silikat yang terhidrasi logam alkali dan alkali tanah (terutama Na dan Ca). Batuan ini berwama abu-abu sampai kebiru-biruan. Para ahli mineralogi menyatakan zeolit mengandung lebih dari 30 mineral alami. Diantaranya: Natrolit, Thomsonit, Analit, Hendalit, Clinoptilotit dan Mordernit.

Abu Vulkanis


Mineral ini berasal dari tufa abu vulkanis. Pertama kali ditemukan oleh mineralogist Swedia, Axel Frederick Crontstedt. Nama zeolit sendiri berasal dari bahasa Latin yang artinya batu yang mendidih. Karena salah satu karakternya melepas air yang dikandungnya waktu dipanaskan sehingga nampak seperti batu yang mendidih. Dengan pemanasan sampai 500 derajat C maka zeolit akan mengalami aktifasi, berupa kemampuan mengikat kation menjadi lebih tinggi. Kemampuan mengikat kation inilah yang akan banyak dibahas dalam penulisan masalah zeolit ini.

Nilai KPK ini merupakan parameter tingkat kesuburan suatu jenis tanah. Maka apabila zeolit yang sudah diproses kemudian diberikan pada lahan pertanian akan meningkatkan nilai KPK tanah sekaligus meningkatkan kesuburan tanah. Nilai KPK ini akan menentukan kemampuan tanah untuk mengikat (mengawetkan) pupuk yang diberikan.

Misalnya tanah dipupuk dengan Urea. Dalam tanah urea akan membentuk ion amonium (NH4+), ion ini apabila tidak diikat oleh tanah (zeolit) maka akan terbuang percuma lewat air irigasi. Dengan demikian unsur hara yang diberikan lewat pemupukan akan lebih efisien apabila tanah pertanian diberi zeolit. Zeolit tidak hanya mengawetkan unsur N saja, tetapi juga K, Ca dan Mg.

Kemampuan mengawetkan pupuk ini berarti akan menghemat biaya pemupukan. Secara kasar petani di eks Karesidenan Surakarta bisa menghitung apabila menggunakan zeolit maka akan menghemat pupuk sekitar 30 % dari dosis yang diberikan. Hal ini tanpa mengurangi produksi tanaman padi. Bahkan untuk tanah dengan kandungan P sedang sampai cukup selama tiga musim tanam berturut-turut petani tidak menggunakan pupuk P (TSP atau SP 36), hanya dengan menambahkan zeolit pada pupuk mereka.
Zeolit bisa menggantikan peran pupuk P sebagai pupuk dasar. Zeolit adalah bahan pedamping pupuk Urea, SP-36 dan KCI, bukan pengganti pupuk tersebut. Tetapi dalam bahasa bisnis sering dikatakan sebagai pupuk dasar (pupuk P) yang murah.

Kandungan Utama:


Secara kimia kandungan zeolit yang utama adalah: Si02 = 62,75%; A1203 =12,71 %; K20 = 1,28 %; CaO = 3,39 %; Na2O = 1,29 %; MnO = 5,58 %; Fe203 = 2,01 %; MgO = 0,85 %; Clinoptilotit = 30 %; Mordernit = 49 %. Sedangkan nilai KPK antara 80 – 120 me/100 gr, nilai yang tergolong tinggi untuk penilaian tingkat kesuburan tanah. Nilai KPK ini akan menentukan kemampuan bahan tersebut untuk menyimpan pupuk yang diberikan sebelum diserap tanaman.
Secara umum fungsi zeolit bagi lahan pertanian adalah:
  1. Meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air irigasi lahan persawahan.
  2. Menjaga keseimbangan pH tanah. 
  3. Mampu mengikat logam berat yang bersifat meracun tanaman misalnya Pb dan Cd.
  4. Mengikat kation dari unsur dalam pupuk misalnya NH4+ dari urea K+ dari KC1, sehingga penyerapan pupuk menjadi effisien (tidak boros). 
  5. Ramah lingkungan karena menetralkan unsur yang mencemari lingkungan. 
  6. Memperbaiki struktur tanah (sifat fisik) karena kandungan Ca dan Na. 
  7. Meningkatkan KPK tanah (sifat kimia).  
  8. Meningkatkan hasil tanaman.
Bahan organik dalam fungsinya sebagai pemantap tanah, maka zeolit akan lebih unggul. Secara teknis sebenarnya bahan organik juga bisa menggantikan peran zeolit. Tetapi ada beberapa kelemahan dari bahan organik sehubungan dengan aplikasinya di lahan pertanian. Kelemahan itu antara lain bahan organik akan melepaskan asam-asam organik yang akan menurunkan pH tanah.

Menurunnya pH tanah berarti menurun pula tingkat kesuburan tanah.
Bahan organik juga mempunyai sifat mengikat dan tidak akan melepaskan unsur-unsur mikro (chellating agent) sehingga tanaman kekurangan unsur mikro (Fe, Mn, Cu dan Mo).
Penggunaan zeolit dalam lahan pertanian ibarat memberi makan tanaman dengan wadahnya. Jadi apabila tanah diberi pupuk dengan tambahan zeolit, maka ibaratnya zeolit adalah wadahnya dan pupuk adalah makanannya. Dengan demikian pupuk (makanan) yang diberikan pada tanaman akan selalu tersedia dan awet karena tidak tercecer kemana-mana.

Tambang Zeolit:


Potensi bahan tambang zeolit di Indonesia sangat melimpah. Hampir setiap daerah yang memiliki pegunungan kapur maka disitulah kaya akan zeolit.
Kebanyakan zeolit di Indonesia didominasi oleh jenis mineral Mordernit dan Klinoptilotit. Misalnya untuk Jawa Tengah bagian selatan terdapat di Kabupaten Wonogiri (sampai perbatasan dengan Gunung Kidul dan Kabupaten Klaten (Bayat). Untuk dapat dipakai sebagai bahan pembenah tanah maka zeolit harus diproses terlebih dahulu.

Proses tersebut secara sederhana dapat dirangkai sebagai berikut:
  1. Penambangan dari areal tambang berupa batuan bongkah-bongkah batu zeolit yang berwarna kelabu sampai hijau tua diambil dari lokasi penambangan.
  2. Aktifasi berupa pemanasan seperti layaknya membakar batu kapur. Dikehendaki untuk menjadikan zeolit menjadi mineral aktif maka dipanaskan pada suhu minimal 500 derajat C. 
  3. Penghancuran (chrussing). Dengan menggunakan jaw chrusser maka dari bongkah-bongkah batuan zeolit dipecah menjadi ukuran yang lebih kecil. 
  4. Penghalusan (grinding dan screening). Proses ini bertujuan untuk mendapatkan bentuk tepung dari batuan zeolit. Ukuran yang dikehendaki untuk keperluan pertanian antara 80-100 mesh. Sedangkan untuk keperluan industri di atas 300 mesh. 
  5. Granulasi. Untuk memudahkan aplikasi di lahan pertanian maka dari bentuk tepung dibuat butiran (granulair). Ukuran granulasi ini biasanya antara 3 mm-5 mm. Bentuk butiran ini akan segera larut bila berada dalam air sehingga akan cepat bereaksi dengan pupuk yang diberikan. 
  6. Pengemasan. Guna memudahkan dalam pengangkutan maka dari bentuk butiran ini dikemas dalam karung dengan berat 50 kg. Kemudian diberi merk sesuai dengan keinginan masing-masing perusahaan.

Prospek Pengembangan

Daerah yang berpotensi untuk eksplorasi dan eksploitasi bahan tambang tersebut seyogyanya mulai berbenah diri. Memanfaatkan potensi alam tersebut untuk pengembangan dan pembangunan wilayah.
Sebenarnya zeolit banyak diperlukan pada berbagai sektor industri. Mulai dari industri kertas, elektronika, deterjen, filter polutan dll. Bisa dihitung berapa juta ton pupuk bisa dihemat apabila penggunaan zeolit dicanangkan di seluruh Indonesia.

Demikian artikel tentang pembenah tanah dengan menggunakan batuan zeolit semoga bisa bermanfaat penambah informasi dan wawasan pembaca semua.

Sukses Petani Indonesia  !!
         Maspary