Sunday, October 4, 2015

CARA MENGHITUNG PRODUKSI PADI

Salam Tani !! Mungkin artikel yang akan saya posting kali ini merupakan artikel yang sudah basi. Dalam arti sudah banyak petani yang tahu. Tapi nggak apa-apa tulisan ini hanya sebagai penangkal lupa untuk maspary sendiri aja. 

Sebelum kita memutuskan untuk memanen sendiri padi kita atau menjual ketika masih di sawah tentunya kita harus bisa memprediksi atau memperkirakan hasil panen padi yang akan kita dapatkan. Sehingga kita tidak sampai tertipu oleh tengkulak karena kita sudah bisa memprediksi hasil panen kita.




Sebenarnya cara memprediksi atau memperkirakan panen padi ada beberapa metode. Namun kali ini maspary hanya akan menyampaikan 2 metode yang sudah biasa saja. Yaitu metode ubinan dan metode menghitung 4 faktor.

1. METODE UBINAN
Alat/ bahan yang perlu dipersiapkan : meteran, tali, ajir, sabit/sabit bergerigi, terpal, tampah, karung dan timbangan.Waktu ubinan yang terbaik jam 9-12 siang.
 
Cara ubinan : 
  • Pilih 2 lokasi yang akan dijadikan tempat ubinan (misal titik A dan B). Sebenarnya untuk menentukan lokasi atau titik ubinan ini ada cara khusus, tetapi tidak perlu saya jelaskan disini karena terlalu ribet dan harus pake tabel. Yang penting tentukan lokasi di tengah petakan sawah dan yang mampu mewakili keadaan padi tersebut. (padi yang tumbuhnya tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek.
  • Ukur menggunakan meteran kedua lokasi tersebut dengan jarak panjang dan lebar masing-masing 2,5 meter
  • Beri tanda hasil pengukuran dari kedua lokasi tersebut menggunakan ajir dan tali
  • Panen lokasi yang sudah diberi tanda menggunakan sabit/ sabit bergerigi
  • Rontokan gabah dari malainya pada tempat yang telah diberi alas terpal
  • Bersihkan kotoran yang ada pada gabah menggunakan tampah
  • Timbang hasil dari kedua lokasi ubinan tersebut (misal titik A= 5,5 kg dan titik B= 6 kg)
 
Cara menghitung ubinan :
Misal dari hasil timbangan diatas adalah titik A= 5,5 kg dan titik B= 6 kg, maka untuk menghitungnya adalah : 
  • Jumlahkan dahulu hasil timbangan kedua titik kemudian dibagi 2 - (5,5 kg + 6 kg) : 2 = 5,75 kg
  • Karena jarak ubinannya 2,5m x 2,5m maka luas ubinan adalah 6,25m2
  • Rumus ubinan/perkiraan = hasil rata-rata timbangan x (10.000 m2 : luas ubinan)
  • Perkiraan produksinya = 5,75 kg x (10.000 m2 : 6,25 m2) -- 5,75 kg x 1.600 = 9.200 kg/Ha GKP
  • Jadi hasil perkiraan produksi adalah 9.200 kg/Ha atau 9,2 ton/Ha GKP 


2. METODE MENGHITUNG 4 FAKTOR
 
Sebelum kita memulai menghitung produksi padi dengan metode 4 faktor maka kita harus mengetahui dan menghitung 4 faktor tersebut:
  • Jarak tanam sehingga diketahui jumlah rumpun/ ha 
  • Jumlah anakkan
  • Jumlah butir per malai 
  • Jumlah 1000 butir per gram
 Adapun caranya adalah sebagai berikut :

  • Tentukan jarak tanamnya (misal 25 cm x 25 cm maka jumlah rumpunnya 160.000). Jumlah rumpun diperoleh dari 1 ha (dlm cm dibagi 25x25 cm) yaitu 100.000.000 : 625 = 160.000 
  • Tentukan 2 rumpun padi secara acak. Pilih yang tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek. 
  • Hitung jumlah anakkannya.  
  • Hitung jumlah anakkan yang ada malainya. Bila dalam satu rumpun ada 18 anakkan yang ada malainya. 
  • Hitung seluruh biji dalam rumpun itu dan dibagi rata dengan jumlah malai. 

Misalkan rumpun 1 ada 2100 butir/ rumpun. maka rata-rata per malai adalah 116 butir. atau bisa kita ambil 3 malai saja, yang pendek, sedang dan panjang. Kita hitung jumlahnya dan dibagi 3, maka hasilnya 116 butir

Misal rumpun 2 ada 14 anakkan 1800 butir/ rumpun. Maka rata-rata per malai adalah 128 butir
 
– hitung berat 1000 butir GKP ( misalkan 30 gram )

Rumus Hasil = 
jumlah rumpun x jumlah anakan x butir per malai x berat per 1000 butir


Hasil untuk rumpun 1
= (160.000 x 18 x 116 x 30) : 1000
= 10022400 gram
= 10022,4 kg
= 10,022 ton/Ha GKP

Hasil untuk rumpun 2
= 160.000 x 14 x 128 x 30/1000
= 8601600 gram
= 8602 kg
= 8,602 ton/Ha GKP


Hasil Perkiraan Panen, kita ambil hasil rata-rata
= ( 10,022 + 8,602 ) : 2
= 9,312 ton/ha GKP

Demikian artikel dari maspary tentang cara menghitung atau memperkirakan atau memprediksi produksi padi. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Setelah membaca tulisan ini saya harapkan mulai sekarang rekan-rekan Gerbang Pertanian tidak perlu bingung lagi memperkirakan hasil panen padi kita.


Sukses Petani Indonesia  !!

       Maspary
 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

Monday, September 28, 2015

PROSPEK BISNIS PEMBESARAN SIDAT

Salam Tani  !! Dalam budidaya tanaman, ternak maupun ikan pasti kita harus menghitung analisa usaha taninya. Hasil produksi dikalikan harga jual lalu dikurangi modal usaha akan kita dapatkan rumus keuntungan. Pasti kita akan tergiur untuk memeliharanya ketika mendengar harga jual ikan sidat yang sangat tinggi yaitu sekitar Rp.180.000 dulu bahkan pernah mencapai Rp.300.000 an/ kg. Akan tetapi tahukah anda berapa biaya yang dibutuhkan untuk usaha tani sidat ini ? Juga berapa waktu yang dibutuhkan untuk membesarkan sidat sehingga siap konsumsi ?

Sebelum kita terjun langsung untuk membudidayakan ikan sidat tersebut pastinya kita akan mencari informasi yang sebanyak-banyaknya tentang cara budidaya ikan ini. Menurut maspary dalam mencari informasi tersebut kita tentunya juga tidak bisa menutup mata tentang kendala yang akan kita hadapi, sehingga bukan hanya manisnya saja yang kita ketahui. Paling tidak jika kita mengetahui kendala-kendala tersebut kita akan waspada dan lebih jeli dalam berbudidaya ikan sidat tersebut.

Sidat merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang bentuknya menyerupai belut. Ikan ini memiliki bentuk fisik yang panjang menyerupai belut dengan kulit berwarna hitam sedikit coklat dan teksturnya yang licin berlendir.

Saat ini komoditi ikan sidat di Indonesia tergolong cukup baik. Permintaan ikan sidat dunia semakin hari juga semakin menunjukkan progres yang tinggi, utamanya di negeri sakura Jepang. Pasalnya, di Jepang ikan sidat merupakan salah satu menu makanan pokok yang biasa dikonsumsi sehari-hari.



Sedangkan di Jepang sendiri, untuk mendapatkan yang namanya ikan sidat sudah lumayan sulit. Menurut informasi yang di dapat bahwa saat ini negara Jepang hanya bisa memenuhi 30 persen kebutuhan ikan sidat yang dikonsumsi masyarakatnya. Sedangkan sisanya mengandalkan pasokan ikan impor dari negara-negara lain tak terkecuali Indonesia.

Namun sayang, menurut informasi yang maspary peroleh dari ketua kelompak tani ikan desa Beji, Kab. Banyumas, sidat ini belum  bisa diternak (dikawinkan sampai menghasilkan anak). Sehingga jika kita akan melakukan budidaya sidat, benihnya hanya merupakan hasil penangkapan ikan di daerah pantai cilacap.

Gambar : Beberapa kolam sidat milik kelompok tani di Desa Beji Kab. Banyumas

Selain itu pemeliharaan ikan sidat juga memerlukan waktu yang lama, dari benih seberat 50 gram sampai seberat 250 gram (layak jual) membutuhkan waktu sekitar 8 bulan. Apakah mungkin itu karena pengaruh suhu udara didaerah beji yang relatif dingin sehingga memperlambat pertumbuhan sidat ? mungkin itu perlu di teliti lebih jauh.

Yang paling utama menjadi kendala budidaya pembesaran sidat adalah harga pakan yang sangat mahal, karena konon katanya sidat memerlukan makanan yang tinggi protein. Sehingga perlu dicari alternatif pakan ikan sidat ini yang harganya murah.

Memang kalau hanya melihat harga jual sidat siap konsumsi yang sangat mahal (sekarang sekitar Rp.180.000/ kg) pasti kita akan sangat tergiur untuk memeliharanya. Akan tetapi menurut Bapak Supri ketua kelompok tani ikan di daerah Beji, dengan harga pakan dan waktu pemeliharaan seperti itu keuntungan budidaya pembesaran sidat belum bisa didapat.

Informasi yang maspary tulis ini bukan untuk menakut-nakuti atau menghalangi keinginan pembaca untuk membudidayakan ikan sidat, tetapi semata-mata hanya untuk sebagai bahan pertimbangan sebelum rekan-rekan mulai budidaya sidat. Karena kalau saya baca baik lewat media cetak maupun internet, banyak buku dan seminar yang sedang menjual manisnya budidaya sidat tanpa memberikan gambaran pahitnya. Mudah-mudahan artikel yang maspary tulis ini bisa membagikan pengalaman yang real pada rekan-rekan dalam budidaya ikan sidat sehingga akan membuat kita lebih hati-hati.



Sukses Petani Indonesia  !!!

           Maspary


 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

Sunday, July 26, 2015

MENGENDALIKAN HAMA PENYAKIT AKUT PADA SEMUA JENIS TANAMAN

Salam Tani !!  Sudah lama tak terasa maspary nggak update artikel di blog Gerbang Pertanian ini. Mungkin karena kesibukan didunia nyata yang membuat terkadang malas posting artikel. Jangankan posting artikel, mbuka laptop aja terkadang nggak sempat. Mumpung lagi sempat dan ada ide artikel baru, kali ini maspary akan menulis cara mengendalikan berbagai hama dan penyakit yang sudah akut atau parah dan sulit dikendalikan pada tanaman kita.


Foto Belalang Yang Menyerang Cabe Maspary


Tak selamanya kita sempurna dalam mengelola tanaman kita, "tiada gading yang tak retak" atau dengan pepatah lain "sepandai-pandai tupai melompat suatu saat kadang juga terpeleset". Jika suatu saat kita mengalami keadaan dimana kondisi tanaman kita terserang hama atau penyakit dan kita merasa sudah tak mampu lagi mengendalikannya. Keadaan ini mungkin terjadi karena kita kurang teliti dalam memantau pertumbuhan tanaman kita sejak awal atau mungkin juga pestisida yang kita gunakan sejak awal kurang tepat sehingga pertumbuhan hama atau penyakit yang menyerang tanaman kita menjadi pesat menjadi tak terkendali lagi.

Cara mengendalikan hama atau penyakit tanaman yang sudah terlanjur merajalela ini sering maspary berikan kepada petani lain dan alhamdulillah banyak yang berhasil. Cuma memang dibutuhkan biaya, waktu dan tenaga lebih ekstra.

Beberapa contoh serangan hama dan penyakit yang bisa ditanggulangi dengan cara tersebut antara lain, serangan hama wereng yang parang yang hampir membuat tanaman terbakar, serangan blast yang sudah parah, serangan busuk leher maupun busuk pelepah pada padi, serangan patek atau antraknosa pada cabe, serangan kresek pada padi dan melon dan lain sebagainya. Tetapi untuk serangan hama dan penyakit yang terjadi pada perakaran tanaman kayaknya belum bisa digunakan cara tersebut. Untuk beluk juga sulit, karena ulat pada padi sudah terlanjur mematahkan malai. Tetapi kalau untuk serangan sundep pada masa vegetatip padi masih bisa digunakan.

Adapun cara mengendalikan hama atau penyakit yang sudah terlanjur parah adalah sebagai berikut :
  1. Identifikasi hama atau penyakit yang menyerang tanaman kita. Kita harus tahu benar hama atau penyakit apa yang telah menyerang tanaman kita. Jangan sampai kita menggunakan pestisida tanpa kita ketahui penyebabnya dengan pasti. Kita cari dulu penyebabnya, hama atau penyakitkah ? Jika hama bentuknya seperti apa, hidupnya di daun, batang atau akar ? Jika penyakit gejalanya seperti apa ? penyebabnya oleh jamur atau bakteri atau virus ? 
  2. Setelah kita tahu hama atau penyakit yang menyerang tanaman kita maka selanjutnya kita tentukan pestisida apa yang paling tepat untuk mengendalikannya. Penentuan jenis pestisida ini juga tidak mudah karena berkaitan dengan pengalaman dan referensi yang pernah kita baca. Jika anda masih kesulitan menentukan jenis pestisida yang akan kita gunakan bisa ditanyakan dikios pertanian langganan anda. Cuma yang terkadang kios sendiri juga nggak tahu dan nggak bisa menentukan pestisidanya. Bisa juga anda tanyakan kepada petani lain saja yang lebih berpengalaman.  (sekilas info, setiap pembelian bukunya maspari "BUKU PANDUAN BERTANI ANTI GAGAL" akan diberikan bonus ribuan jenis pestisida dan peruntukannya serta cara kerjanya. Insya alloh dengan bonus tersebut anda tidak lagi kesulitan menentukan jenis pestisida yang akan kita gunakan)
  3. Sebelum kita melakukan penyemprotan, sebaiknya kita melakukan pengendalian secara mekanik dahulu. Daun, buah, batang dan ranting yang terserang hama atau penyakit sebaiknya kita pangkas terlebih dahulu. Bagian tanaman yang terserang hama atau penyakit tersebut kita ambil lalu kita bakar saja, agar hama dan penyakit yang ada pada bagian tanaman tersebut bisa terbakar.
  4. Lakukan penyemprotan dengan dosis tinggi. Maksudnya dengan volume penyemprotan yang banyak, atau bahasa jawanya nyemprot yang tapis. Nyemprot yang rata yang mengenai semua bagian tanaman baik batang maupun daun, baik permukaan atas ataupun bawah. Semprot saat sore hari menjelang malam dengan kondisi cuaca yang cerah. Jangan menyemprot saat mendung, gerimis apalagi hujan. Nggak usah memaksakan sehari harus selesai walaupun itu lebih bagus, kalau nggak selesai boleh diselesaiakan atau diteruskan besok. Kalau diperlukan konsentrasi yang digunakan juga harus tinggi, maksudnya jika konsentrasi anjuran 1-2 ml/ liter maka kita gunakan yang 2 ml/ liter saja.
  5. Ulangi penyemprotan setelah 1 - 2 hari. Penyemprotan dengan interval 1-2 hari ini diulang sampai tiga kali penyemprotan. Jadi maksudnya penyemprotan dilakukan 3 kali berturut-turut dengan selang 1-2 hari.
Dengan teori penggabungan pengendalian secara mekanik dan kimia, dengan penyemprotan dengan konsentrasi dan  volume tinggi biasanya serangan hama maupun pennyakit akan terhenti. Mudah-mudahan informasi tentang cara mengendalikan hama atau penyakit yang sudang terlanjur parah ini, yang maspary tulis di blok Gerbang Pertanian ini bisa bermanfaat buat rekan-rekan petani Indonesia.


Sukses Petani Indonesia !!

       Maspary
 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg