Sunday, February 5, 2017

MEMBUAT PERANGKAP HAMA TANAMAN PADI

Salam Tani....!!

Semoga para petani Indonesia selalu diberi kesehatan dan keselamatan oleh Alloh SWT. Semoga para petani Indonesia selalu diberi semangat dan tidak mengenal patah arang agar bisa selalu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Aamiiinn.....

Kali ini maspary akan mnulis artikel cara membuat perangkap hama untuk tanaman padi. Ini rupakan tindakan preventif atau pencegahan sebelum hama menyerang tanaman kita. Tindakan preventif termasuk juga tehnik pengendalian hama dan ini merupakan pengendalian yang utama karena selain hemat biaya dan tenaga juga mencegah terjadinya kerusakan tanaman.

Seperti kita ketahui bahwa hama tanaman padi sangatlah komplek atau bervariasi, mulai dari wereng, penggrek batang (sundep, beluk), hama pelipat daun, putih palsu, ganjur, ulat grayak dan lain sebagainya. Hama-hama tersebut memiliki cara hidup yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Dan sebaiknya kita mempelajari cara hidup berbagai hama tersebut, agar kita bisa mengendalikan hama-hama tanaman padi tersebut.

Alat perangkap yang akan kita buat ini adalah alat untuk menjebak imago atau vase dewasa (kupu-kupu) dari serangga hama tanaman padi. Pada dasarnya serangga dewasa akan tertarik dengan bau yang anyir dan menyengat. Mereka akan mencari sumber bau tersebut. Itulah konsep dasar cara kerja perangkap hama tanaman padi.

Alat dan Bahan :
  1. 2 buah botol air mineral yang kemasan 1,5 liter
  2. Gunting atau pisau
  3. Ajir dari bambu atau kayu
  4. Keong atau kepiting sawah
  5. Tali rafia
Cara membuat :
  1. Potong pangkal botol air mineral tersebut
  2. Potong juga ujung botol tapi jangan terlalu keatas, sehingga diperoleh dua buah tabung dari botol air mineral tersebut
  3. Sambungkan kedua tabung botol air mineral tersebut, dengan cara memasukkan salah satu tabung ke tabung yang lain.
  4. Masukkan keong atau kepiting sawah yang sudah dicincang atau diremuk ke dalam alat perangkap tersebut.
  5. Masukkan kembali potongan ujung botol dengan posisi terbalik
  6. Ikat alat perangkap hama tanaman padi tersebut pada sebuah ajir
  7. Tancapkan ajir di petakan sawah. Tinggi ajir sebaiknya sekitar 150 cm dan ditancapkan sedalam 30 cm
  8. Dalam satu petakan sawah pasang lebih dari satu alat perangkap... pasang sekeliling petakan tersebut dengan jarak sekitar 5 m satu alat. Sehingga saat ada imago hama padi yang mendekat mau meletakkan telor akan tertarik mendekati perangkap tersebut dan masuk kedalamnya.


Begitulah cara membuat alat perangkap hama tanaman padi. Mudah dan praktis serta murah karena hanya menggunakan bahan-bahan limbah.  Rangkaian alat tersebut tidaklah baku, boleh dimodifikasi sesuai dengan ketersediaan bahan dan kreatifitas para petani. Semoga artikel cara membuat perangkap hama tanaman padi tersebut bisa bermanfaat dunia akherat untuk para pembaca dan penulis gerbang pertanian. Jangan lupa jika sudah membuat alat tersebut dan bermanfaat bagi anda, beritahu teman rekan-rekan petani yang lain cara membuatnya.



Sukses Petani Indonesia  !!!
 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

Sunday, October 4, 2015

CARA MENGHITUNG PRODUKSI PADI

Salam Tani !! Mungkin artikel yang akan saya posting kali ini merupakan artikel yang sudah basi. Dalam arti sudah banyak petani yang tahu. Tapi nggak apa-apa tulisan ini hanya sebagai penangkal lupa untuk maspary sendiri aja. 

Sebelum kita memutuskan untuk memanen sendiri padi kita atau menjual ketika masih di sawah tentunya kita harus bisa memprediksi atau memperkirakan hasil panen padi yang akan kita dapatkan. Sehingga kita tidak sampai tertipu oleh tengkulak karena kita sudah bisa memprediksi hasil panen kita.




Sebenarnya cara memprediksi atau memperkirakan panen padi ada beberapa metode. Namun kali ini maspary hanya akan menyampaikan 2 metode yang sudah biasa saja. Yaitu metode ubinan dan metode menghitung 4 faktor.

1. METODE UBINAN
Alat/ bahan yang perlu dipersiapkan : meteran, tali, ajir, sabit/sabit bergerigi, terpal, tampah, karung dan timbangan.Waktu ubinan yang terbaik jam 9-12 siang.
 
Cara ubinan : 
  • Pilih 2 lokasi yang akan dijadikan tempat ubinan (misal titik A dan B). Sebenarnya untuk menentukan lokasi atau titik ubinan ini ada cara khusus, tetapi tidak perlu saya jelaskan disini karena terlalu ribet dan harus pake tabel. Yang penting tentukan lokasi di tengah petakan sawah dan yang mampu mewakili keadaan padi tersebut. (padi yang tumbuhnya tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek.
  • Ukur menggunakan meteran kedua lokasi tersebut dengan jarak panjang dan lebar masing-masing 2,5 meter
  • Beri tanda hasil pengukuran dari kedua lokasi tersebut menggunakan ajir dan tali
  • Panen lokasi yang sudah diberi tanda menggunakan sabit/ sabit bergerigi
  • Rontokan gabah dari malainya pada tempat yang telah diberi alas terpal
  • Bersihkan kotoran yang ada pada gabah menggunakan tampah
  • Timbang hasil dari kedua lokasi ubinan tersebut (misal titik A= 5,5 kg dan titik B= 6 kg)
 
Cara menghitung ubinan :
Misal dari hasil timbangan diatas adalah titik A= 5,5 kg dan titik B= 6 kg, maka untuk menghitungnya adalah : 
  • Jumlahkan dahulu hasil timbangan kedua titik kemudian dibagi 2 - (5,5 kg + 6 kg) : 2 = 5,75 kg
  • Karena jarak ubinannya 2,5m x 2,5m maka luas ubinan adalah 6,25m2
  • Rumus ubinan/perkiraan = hasil rata-rata timbangan x (10.000 m2 : luas ubinan)
  • Perkiraan produksinya = 5,75 kg x (10.000 m2 : 6,25 m2) -- 5,75 kg x 1.600 = 9.200 kg/Ha GKP
  • Jadi hasil perkiraan produksi adalah 9.200 kg/Ha atau 9,2 ton/Ha GKP 


2. METODE MENGHITUNG 4 FAKTOR
 
Sebelum kita memulai menghitung produksi padi dengan metode 4 faktor maka kita harus mengetahui dan menghitung 4 faktor tersebut:
  • Jarak tanam sehingga diketahui jumlah rumpun/ ha 
  • Jumlah anakkan
  • Jumlah butir per malai 
  • Jumlah 1000 butir per gram
 Adapun caranya adalah sebagai berikut :

  • Tentukan jarak tanamnya (misal 25 cm x 25 cm maka jumlah rumpunnya 160.000). Jumlah rumpun diperoleh dari 1 ha (dlm cm dibagi 25x25 cm) yaitu 100.000.000 : 625 = 160.000 
  • Tentukan 2 rumpun padi secara acak. Pilih yang tidak terlalu bagus dan tidak terlalu jelek. 
  • Hitung jumlah anakkannya.  
  • Hitung jumlah anakkan yang ada malainya. Bila dalam satu rumpun ada 18 anakkan yang ada malainya. 
  • Hitung seluruh biji dalam rumpun itu dan dibagi rata dengan jumlah malai. 

Misalkan rumpun 1 ada 2100 butir/ rumpun. maka rata-rata per malai adalah 116 butir. atau bisa kita ambil 3 malai saja, yang pendek, sedang dan panjang. Kita hitung jumlahnya dan dibagi 3, maka hasilnya 116 butir

Misal rumpun 2 ada 14 anakkan 1800 butir/ rumpun. Maka rata-rata per malai adalah 128 butir
 
– hitung berat 1000 butir GKP ( misalkan 30 gram )

Rumus Hasil = 
jumlah rumpun x jumlah anakan x butir per malai x berat per 1000 butir


Hasil untuk rumpun 1
= (160.000 x 18 x 116 x 30) : 1000
= 10022400 gram
= 10022,4 kg
= 10,022 ton/Ha GKP

Hasil untuk rumpun 2
= 160.000 x 14 x 128 x 30/1000
= 8601600 gram
= 8602 kg
= 8,602 ton/Ha GKP


Hasil Perkiraan Panen, kita ambil hasil rata-rata
= ( 10,022 + 8,602 ) : 2
= 9,312 ton/ha GKP

Demikian artikel dari maspary tentang cara menghitung atau memperkirakan atau memprediksi produksi padi. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi pembaca dan penulis. Setelah membaca tulisan ini saya harapkan mulai sekarang rekan-rekan Gerbang Pertanian tidak perlu bingung lagi memperkirakan hasil panen padi kita.


Sukses Petani Indonesia  !!

       Maspary
 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

Monday, September 28, 2015

PROSPEK BISNIS PEMBESARAN SIDAT

Salam Tani  !! Dalam budidaya tanaman, ternak maupun ikan pasti kita harus menghitung analisa usaha taninya. Hasil produksi dikalikan harga jual lalu dikurangi modal usaha akan kita dapatkan rumus keuntungan. Pasti kita akan tergiur untuk memeliharanya ketika mendengar harga jual ikan sidat yang sangat tinggi yaitu sekitar Rp.180.000 dulu bahkan pernah mencapai Rp.300.000 an/ kg. Akan tetapi tahukah anda berapa biaya yang dibutuhkan untuk usaha tani sidat ini ? Juga berapa waktu yang dibutuhkan untuk membesarkan sidat sehingga siap konsumsi ?

Sebelum kita terjun langsung untuk membudidayakan ikan sidat tersebut pastinya kita akan mencari informasi yang sebanyak-banyaknya tentang cara budidaya ikan ini. Menurut maspary dalam mencari informasi tersebut kita tentunya juga tidak bisa menutup mata tentang kendala yang akan kita hadapi, sehingga bukan hanya manisnya saja yang kita ketahui. Paling tidak jika kita mengetahui kendala-kendala tersebut kita akan waspada dan lebih jeli dalam berbudidaya ikan sidat tersebut.

Sidat merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang bentuknya menyerupai belut. Ikan ini memiliki bentuk fisik yang panjang menyerupai belut dengan kulit berwarna hitam sedikit coklat dan teksturnya yang licin berlendir.

Saat ini komoditi ikan sidat di Indonesia tergolong cukup baik. Permintaan ikan sidat dunia semakin hari juga semakin menunjukkan progres yang tinggi, utamanya di negeri sakura Jepang. Pasalnya, di Jepang ikan sidat merupakan salah satu menu makanan pokok yang biasa dikonsumsi sehari-hari.



Sedangkan di Jepang sendiri, untuk mendapatkan yang namanya ikan sidat sudah lumayan sulit. Menurut informasi yang di dapat bahwa saat ini negara Jepang hanya bisa memenuhi 30 persen kebutuhan ikan sidat yang dikonsumsi masyarakatnya. Sedangkan sisanya mengandalkan pasokan ikan impor dari negara-negara lain tak terkecuali Indonesia.

Namun sayang, menurut informasi yang maspary peroleh dari ketua kelompak tani ikan desa Beji, Kab. Banyumas, sidat ini belum  bisa diternak (dikawinkan sampai menghasilkan anak). Sehingga jika kita akan melakukan budidaya sidat, benihnya hanya merupakan hasil penangkapan ikan di daerah pantai cilacap.

Gambar : Beberapa kolam sidat milik kelompok tani di Desa Beji Kab. Banyumas

Selain itu pemeliharaan ikan sidat juga memerlukan waktu yang lama, dari benih seberat 50 gram sampai seberat 250 gram (layak jual) membutuhkan waktu sekitar 8 bulan. Apakah mungkin itu karena pengaruh suhu udara didaerah beji yang relatif dingin sehingga memperlambat pertumbuhan sidat ? mungkin itu perlu di teliti lebih jauh.

Yang paling utama menjadi kendala budidaya pembesaran sidat adalah harga pakan yang sangat mahal, karena konon katanya sidat memerlukan makanan yang tinggi protein. Sehingga perlu dicari alternatif pakan ikan sidat ini yang harganya murah.

Memang kalau hanya melihat harga jual sidat siap konsumsi yang sangat mahal (sekarang sekitar Rp.180.000/ kg) pasti kita akan sangat tergiur untuk memeliharanya. Akan tetapi menurut Bapak Supri ketua kelompok tani ikan di daerah Beji, dengan harga pakan dan waktu pemeliharaan seperti itu keuntungan budidaya pembesaran sidat belum bisa didapat.

Informasi yang maspary tulis ini bukan untuk menakut-nakuti atau menghalangi keinginan pembaca untuk membudidayakan ikan sidat, tetapi semata-mata hanya untuk sebagai bahan pertimbangan sebelum rekan-rekan mulai budidaya sidat. Karena kalau saya baca baik lewat media cetak maupun internet, banyak buku dan seminar yang sedang menjual manisnya budidaya sidat tanpa memberikan gambaran pahitnya. Mudah-mudahan artikel yang maspary tulis ini bisa membagikan pengalaman yang real pada rekan-rekan dalam budidaya ikan sidat sehingga akan membuat kita lebih hati-hati.



Sukses Petani Indonesia  !!!

           Maspary


 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg