Tuesday, April 26, 2011

BUDIDAYA ITIK/ BEBEK SECARA MODERN

 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

budidaya-bebek-peking-modern Itik atau bebek bukanlah binatang yang aneh bagi kita dan kita juga telah biasa memeliharanya secara tradisional (memelihara dengan kandang seadanya dan pemberian pakan yang belum optimal). Kali ini Gerbang Pertanian ingin sedikit mengulas tentang budidaya itik/ bebek secara modern.

1. SEJARAH SINGKAT
Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bhs.Jawa). Nenek moyangnya berasal dari
Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus
dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas
domesticus (ternak itik).

2. SENTRA PERIKANAN
Secara internasional ternak itik terpusat di negara-negara Amerika utara, Amerika
Selatan, Asia, Filipina, Malaysia, Inggris, Perancis (negara yang mempunyai musim
tropis dan subtropis). Sedangkan di Indonesia ternak itik terpusatkan di daerah pulau
Jawa (Tegal, Brebes dan Mojosari), Kalimantan (Kecamatan Alabio, Kabupaten
Amuntai) dan Bali serta Lombok.

3. JENIS
Klasifikasi (penggolongan) itik, menurut tipenya dikelompokkan dalam 3 (tiga) golongan,
yaitu:

  1. Itik petelur seperti Indian Runner, Khaki Campbell, Buff (Buff Orpington) dan CV
    2000-INA;
  2. Itik pedaging seperti Peking, Rouen, Aylesbury, Muscovy, Cayuga;
  3. Itik ornamental (itik kesayangan/hobby) seperti East India, Call (Grey Call),
    Mandariun, Blue Swedish, Crested, Wood.
    Jenis bibit unggul yang diternakkan, khususnya di Indonesia ialah jenis itik petelur
    seperti itik tegal, itik khaki campbell, itik alabio, itik mojosari, itik bali, itik CV 2000-INA
    dan itik-itik petelur unggul lainnya yang merupakan produk dari BPT (Balai Penelitian
    Ternak) Ciawi, Bogor.

4. MANFAAT

  1. Untuk usaha ekonomi kerakyatan mandiri.
  2. Untuk mendapatkan telur itik konsumsi, daging, dan juga pembibitan ternak itik.
  3. Kotorannya bisa sebagai pupuk tanaman pangan/palawija.
  4. Sebagai pengisi kegiatan dimasa pensiun.
  5. Untuk mencerdaskan bangsa melalui penyediaan gizi masyarakat.

5. PERSYARATAN LOKASI
Mengenai lokasi kandang yang perlu diperhatikan adalah: letak lokasi lokasi jauh dari
keramaian/pemukiman penduduk, mempunyai letak transportasi yang mudah dijangkau
dari lokasi pemasaran dan kondisi lingkungan kandang mempunyai iklim yang kondusif
bagi produksi ataupun produktivitas ternak. Itik serta kondisi lokasi tidak rawan
penggusuran dalam beberapa periode produksi.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri, terutama dalam
hal pemahaman tentang pancausaha beternak yaitu (1). Perkandangan; (2). Bibit
Unggul; (3). Pakan Ternak; (4). Tata Laksana dan (5). Pemasaran Hasil Ternak.

Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Persyaratan temperatur kandang ± 39 ° C.
2. Kelembaban kandang berkisar antara 60-65%
3. Penerangan kandang diberikan untuk memudahkan pengaturan kandang
agar tata kandang sesuai dengan fungsi bagian-bagian kandang

4. Model kandang ada 3 (tiga) jenis yaitu:

  1. kandang untuk anak itik (DOD) oada masa stater bisa disebut
    juga kandang box, dengan ukuran 1 m 2 mampu menampung 50
    ekor DOD
  2. kandang Brower (untuk itik remaja) disebut model kandang
    Ren/kandang kelompok dengan ukuran 16-100 ekor perkelompok
  3. kandang layar ( untuk itik masa bertelur) modelnya bisa berupa
    kandang baterei ( satu atau dua ekor dalam satu kotak) bisa juga
    berupa kandang lokasi ( kelompok) dengan ukuran setiap meter
    persegi 4-5 ekor itik dewasa ( masa bertelur atau untuk 30 ekor
    itik dewasa dengan ukuran kandang 3 x 2 meter).

5. Kondisi kandang dan perlengkapannya
Kondisi kandang tidak harus dari bahan yang mahal tetapi cukup
sederhana asal tahan lama (kuat). Untuk perlengkapannya berupa
tempat makan, tempat minum dan mungkin perelengkapan tambahan lain
yang bermaksud positif dalam managemen

2. Pembibitan

Ternak itik yang dipelihara harus benar-benar merupakan ternak unggul yang
telah diuji keunggulannya dalam memproduksi hasil ternak yang diharapkan.
1. Pemilihan bibit dan calon induk
Pemilihan bibit ada 3 ( tiga) cara untuk memperoleh bibit itik yang baik
adalah sebagai berikut :

  1. membeli telur tetas dari induk itik yang dijamin keunggulannya
  2. memelihara induk itik yaitu pejantan + betina itik unggul untuk
    mendapatkan telur tetas kemudian meletakannya pada mentok,
    ayam atau mesin tetas
  3. membeli DOD (Day Old Duck) dari pembibitan yang sudah dikenal
    mutunya maupun yang telah mendapat rekomendasi dari dinas
    peternakan setempat.

Ciri DOD yang baik adalah tidak cacat (tidak
sakit) dengan warna bulu kuning mengkilap.

2. Perawatan bibit dan calon induk

  1. Perawatan Bibit
    Bibit (DOD) yang baru saja tiba dari pembibitan, hendaknya
    ditangani secara teknis agar tidak salah rawat. Adapun
    penanganannya sebagai berikut: bibit diterima dan ditempatkan
    pada kandang brooder (indukan) yang telah dipersiapkan
    sebelumnya. Dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam brooder
    adalah temperatur brooder diusahakan yang anak itik tersebar
    secara merata, kapasitas kandang brooder (box) untuk 1 m²
    mampu menampung 50 ekor DOD, tempat pakan dan tempat
    minum sesuai dengan ketentuan yaitu jenis pakan itik fase stater
    dan minumannya perlu ditambah vitamin/mineral.
  2. Perawatan calon Induk
    Calon induk itik ada dua macam yaitu induk untuk produksi telur
    konsumsi dan induk untuk produksi telur tetas. Perawatan
    keduanya sama saja, perbedaannya hanya pada induk untuk
    produksi telur tetas harus ada pejantan dengan perbandingan 1
    jantan untuk 5 – 6 ekor betina.
  3. Reproduksi dan Perkawinan
    Reproduksi atau perkembangbiakan dimaksudkan untuk mendapatkan
    telur tetas yang fertil/terbuahi dengan baik oleh itik jantan. Sedangkan
    sistem perkawinan dikenal ada dua macam yaitu itik hand mating/pakan
    itik yang dibuat oleh manusia dan nature mating (perkawinan itik secara
    alami).

3. Pemeliharaan

  1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    Sanitasi kandang mutlak diperlukan dalam pemeliharaan itik dan tindakan
    preventif (pencegahan penyakit) perlu diperhatikan sejak dini untuk
    mewaspadai timbulnya penyakit.
  2. Pengontrol Penyakit
    Dilakukan setiap saat dan secara hati-hati serta menyeluruh. Cacat dan
    tangani secara serius bila ada tanda-tanda kurang sehat pada itik.
  3. Pemberian Pakan
    Pemberian pakan itik tersebut dalam tiga fase, yaitu fase stater (umur 0–
    8 minggu), fase grower (umur 8–18 minggu) dan fase layar (umur 18–27
    minggu). Pakan ketiga fase tersebut berupa pakan jadi dari pabrik
    (secara praktisnya) dengan kode masing-masing fase. Cara memberi
    pakan tersebut terbagi dalam empat kelompok yaitu:
    1. umur 0-16 hari diberikan pada tempat pakan datar (tray feeder)
    2. umur 16-21 hari diberikan dengan tray feeder dan sebaran dilantai
    3. umur 21 hari samapai 18 minggu disebar dilantai.
    4. umur 18 minggu–72 minggu, ada dua cara yaitu 7 hari pertama
    secara pakan peralihan dengan memperhatikan permulaan
    produksi bertelur sampai produksi mencapai 5%. Setelah itu
    pemberian pakan itik secara ad libitum (terus menerus).
    Dalam hal pakan itik secara ad libitum, untuk menghemat pakan biaya
    baik tempat ransum sendiri yang biasa diranum dari bahan-bahan seperti
    jagung, bekatul, tepung ikan, tepung tulang, bungkil feed suplemen.
    Pemberian minuman itik, berdasarkan pada umur itik juga yaitu :
    5. umur 0-7 hari, untuk 3 hari pertama iar minum ditambah vitamin
    dan mineral, tempatnya asam seperti untuk anak ayam.
    6. umur 7-28 hari, tempat minum dipinggir kandang dan air minum
    diberikan secara ad libitum (terus menerus)
    7. umur 28 hari-afkir, tempat minum berupa empat persegi panjang
    dengan ukuran 2 m x 15 cm dan tingginya 10 cm untuk 200-300
    ekor. Tiap hari dibersihkan.

4. Pemeliharaan Kandang
Kandang hendaknya selalu dijaga kebersihannya dan daya gunanya agar
produksi tidak terpengaruh dari kondisi kandang yang ada.

7. HAMA DAN PENYAKIT
Secara garis besar penyakit itik dikelompokkan dalam dua hal yaitu:

  1. penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri dan
    protozoa
  2. penyakit yang disebabkan oleh defisiensi zat makanan dan tata laksana
    perkandangan yang kurang tepat

Adapun jenis penyakit yang biasa terjangkit pada itik adalah:

  1. Penyakit Duck Cholera
    Penyebab: bakteri Pasteurela avicida.
    Gejala: mencret, lumpuh, tinja kuning kehijauan.
    Pengendalian: sanitasi kandang,pengobatan dengan suntikan penisilin pada urat
    daging dada dengan dosis sesuai label obat.
  2. Penyakit Salmonellosis
    Penyebab: bakteri typhimurium.
    Gejala: pernafasan sesak, mencret.
    Pengendalian: sanitasi yang baik, pengobatan dengan furazolidone melalui
    pakan dengan konsentrasi 0,04% atau dengan sulfadimidin yang dicampur air
    minum, dosis disesuaikan dengan label obat.

8. PANEN
1. Hasil Utama
Hasil utama, usaha ternak itik petelur adalah telur itik
2. Hasil Tambahan
Hasil tambah berupa induk afkir, itik jantan sebagai ternak daging dan kotoran
ternak sebagai pupuk tanam yang berharga

9. PASCA PANEN
Kegiatan pascapanen yang bias dilakukan adalah pengawetan. Dengan pengawetan
maka nilai ekonomis telur itik akan lebih lama dibanding jika tidak dilakukan
pengawetan. Telur yang tidak diberikan perlakuan pengawetan hanya dapat tahan
selama 14 hari jika disimpan pada temperatur ruangan bahkan akan segera membusuk.
Adapun perlakuan pengawetan terdiri dari 5 macam, yaitu:

  1. Pengawetan dengan air hangat
    Pengawetan dengan air hangat merupakan pengawetan telur itik yang paling
    sederhana. Dengan cara ini telur dapat bertahan selama 20 hari.
  2. Pengawetan telur dengan daun jambu biji
    Perendaman telur dengan daun jambu biji dapat mempertahankan mutu telur
    selama kurang lebih 1 bulan. Telur yang telah direndam akan berubah warna
    menjadi kecoklatan seperti telur pindang.
  3. Pengawetan telur dengan minyak kelapa
    Pengawetan ini merupakan pengawetan yang praktis. Dengan cara ini warna
    kulit telur dan rasanya tidak berubah.
  4. Pengawetan telur dengan natrium silikat
    Bahan pengawetan natrium silikat merupkan cairan kental, tidak berwarna,
    jernih, dan tidak berbau. Natirum silikat dapat menutupi pori kulit telur sehingga
    telur awet dan tahan lama hingga 1,5 bulan. Adapun caranya adalah dengan
    merendam telur dalam larutan natrium silikat10% selama satu bulan.
  5. Pengawetan telur dengan garam dapur
    Garam direndam dalam larutan garam dapur (NaCl) dengan konsentrasi 25-40%
    selama 3 minggu.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya itik di Semarang tahun 1999 adalah sebagai berikut:.
1. Permodalan
1. Modal kerja
Anak itik siap telur um 6 bl 36 paketx500 ek x Rp 6.000
====== Rp 108.000.000,-
Biaya kelancaran usaha dan lain-lain
==================== Rp 4.000.000,-
2. Modal Investasi
Kebutuhan kandang 36 paket x Rp 500.000,-
============= Rp 18.000.000,-
Jumlah kebutuhan modal : Rp 130.000.000,-
Prasyaratan kredit yang dikehendaki:
Bunga (menurun) 20% /tahun
Masa tanggung angsuran 1 tahun
Lama kredit 3 tahun
2. Biaya-biaya
1. Biaya kelancaran usaha dan lain-lain
======================= Rp 4.000.000,-
2. Biaya tetap
Biaya pengambalian kredit:
Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun I
============ Rp 14.723.000,-
Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun II
=========== Rp 86.125.000,-
Biaya pengambalian angsuran dan bunga tahun III
========== Rp 73.125.000,-
Biaya penyusutan kandang:
biaya penyusutan kandang tahun I
================== Rp 3.600.000,-
biaya penyusutan kandang tahun II
================== Rp 3.600.000,-
biaya penyusutan kandang tahun III
================= Rp 3.600.000,-
3. Biaya tidak tetap
1. Biaya pembayaran ransum:
biaya ransum tahun I
============================== Rp 245.700.000,-
biaya ransum tahun II
============================== Rp 453.600.000,-
biaya ransum tahun III
============================= Rp 453.600.000,-
2. Biaya pembayaran itik siap produksi:
pembayaran tahun I
=============================== Rp 108.000.000,-
pembayaran tahun II -
pembayaran tahun III -
3. Biaya pembayaran obat-obatan:
biaya pembayaran obat-obatan tahun I
================== Rp 2.457.000,-
biaya pembayaran obat-obatan tahun II
================= Rp 4.536.000,-
biaya pembayaran obat-obatan tahun III
================= Rp 4.436.000,-
( Biaya obat-obatan adalah 1% dari biaya ransum)
4. Pendapatan
1. Penjualan telur tahun I ================================
Rp 384.749.920,-
2. Penjualan telur tahun II ===============================
Rp 615.600.000,-
3. Penjualan telur tahun III ===============================
Rp 615.600.000,-
4. Penjualan itik culling 2 x 1.425 x Rp 2.000,- =================
Rp 5.700.000,-

2. Gambaran Peluang Agribisnis
Telur dan daging itik merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan
keuntungan besar. Kebutuhan akan telur dan daging pasar internasional sangat
besar dan masih tidak seimbang dari persediaan yang ada. Hal ini dapat dilihat
bahwa baru dua negara Thailand dan Malaysia yang menjadi negara pengekspor
terbesar. Hingga saat ini budidaya itik masih merupakan komoditi yang menjanji
untuk dikembangkan secara intensif.

Demikian sedikit artikel tentang budidaya itik/ bebek secara modern semoga bisa meningkatkan usaha peternakan itik/ bebek yang sedang kita tekuni. Atau juga bisa memberikan gambaran/ wawasan kepada kita yang baru mau menekuni budidaya itik/ bebek. Semoga ulasan singkat ini bisa membawa manfaat bagi kita semua.


Terimakasih telah berkunjung ke Gerbangpertanian.com, jika ingin melengkapi artikel ini silahkan tulis di kolom komentar. Jika anda menyukai artikel ini bagikan ke rekan-rekan anda dengan mengklik tombol suka dibawah ini..

1 comments:

ifah poltekta said...

makacih yach,,,akhirx laporan q slessai jg

Post a Comment