Monday, October 17, 2011

INSEKTISIDA DAN AKARISIDA ALAMI I (Panut Djojosumarto)

Salam Pertanian!! Kemarin minggu 16 Oktober 2011 adalah hari istimewa bagi Gerbang Pertanian karena kami bisa mertemu dengan orang yang istimewa yaitu Bapak Panut Djojosumarto walaupun hanya lewat SMS. Beliau adalah seorang penulis terkenal di bidang pertanian terutama tentang pestisida. Siapa yang tidak kenal dengan buku belia yang berjudul Pestisida Dan Aplikasinya. Beliau ingin membagikan ilmu pada petani Indonesia atau rekan-rekan Gerbang Pertanian semua.

Oleh karena itu jangan sampai ketinggalan informasi, karena beberapa hari kedepan kita akan memosting artikel dari beliau. Mudah-mudahan beliau masih mau berbaik hati kepada kita semua untuk membagikan ilmu beliau tentang pertanian khususnya tentang pestisida. Sebelumnya kami ucapkan terimakasih kepada Bapak Panut Djojosumarto karena telah mau berbaik hati membagikan wawasan kepada para petani Indonesia, semoga dengan artikel-artikel dari beliau nanti bisa menjadi pencerahan petani Indonesia.

Untuk artikel yang pertama dari beliau sebenarnya berjudul “Insektisida Dan Akarisida Yang Berasal Dari Alam”, artikel tersebut sangat panjang kalau ditulis dalam satu postingan oleh karena itu Maspary akan membagi dalam beberapa postingan.


Insektisida Dan Akarisida Yang Berasal Dari Alam

Oleh:  Panut Djojosumarto

PENGERTIAN

Yang dimaksud dengan insektisida dan akarsida alami adalah semua bahan aktif insektisida dan akarisida yang diambil dari alam, bukan merupakan hasil sintesa di laboratorium. Ketika insektisida alami diproduksi secara komersial, peranan industri terbatas pada riset dan pengembangan, pemurnian bahan aktif dan formulasi, sehingga senyawa tersebut dapat digunakan secara praktis di lapangan.
Dalam artikel ini kami membagi insektisida alami kedalam beberapa kategori sebagai berikut:
  1. Insektisida nabati (insektisida botani), yakni bahan aktif insektisida yang diekstrak dari tumbuhan, seperti azadiraktin, nikotin, rotenon, dan seterusnya.
  2. Insektisida mikrobiologi (insektisida biologi), adalah mikroorganisme seperti jamur, virus, nematoda, dan sebagainya, yang umumnya menyebabkan penyakit pada serangga hama tertentu.
  3. Insektisida alami yang bukan termasuk ke dalam kategori 1, 2 dan 4. Contoh dari kategori ini adalah tanah diatomeae, bubuk karbon, dan sebagainya.
  4. Insektisida yang berasal dari fermentasi mikroorganisme, seperti antibiotika, makrolida, dan sebagainya. Alasan mengapa kelompok antibiotika dan/atau makrolida kami masukkan ke dalam kelompok insektisida alami adalah kenyataan bahwa senyawa kimia ini tidak dibuat/disintesa di laboratorium, tetapi dihasilkan secara alami dari fermentasi mikrobiologi.

INSEKTISIDA NABATI

Sejak lama diketahui bahwa beberapa ekstrak tumbuhan bersifat racun bagi serangga tertentu. Penggunaan ekstrak tumbuhan sebagai insektisida telah diketahui sejak abad 18, di antaranya daun tembakau (1763), bubuk piretrum dari bunga Chrysantemum (1840), dan akar tuba (Derris eliptica).
Daftar tumbuhan yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pestisida botani dapat dilihat dibawah ini:


Beberapa jenis tumbuhan yang telah diteliti manfaatnya sebagai Pestisida botani




No

Nama Umum

Nama Ilmiah

Bagian tanaman

Penggunaan
1
Aglaia
(i) Aglaia odorata
Kulit, batang, daun
Insektisida
2
Babandotan
Ageratum conyzoides
Daun, batang, akar
Insektisida Nematisida
3
Balakama
Ocimum basilicum
Daun, biji
Insektisida
4
Bawang
Allium spp.
Umbi
Insektisida Fungisida Nematisida
5
Bengkuang
Pacchiryzus erosus
Daun, biji
Insektisida
6
Bitung
Barringtonia sp.
Biji
Insektisida Piscisida
7
Brotowali
Tinospora sp.
Batang
Insektisida
8
Cengkih
Syzigium aromaticum
Daun, bunga
Bakterisida Fungisida Insektisida
9
Daun wangi
Malaleuca bracteata
Daun
Atraktan
10
Duku
Lansium domesticum
Kulit buah, biji
Insektisida
11
Gadung
Dioscore composite
Umbi
Rodentisida
12
Jarak
Ricinus communis
Biji, daun
Insektisida
Rodentisida Insektisida Nematisida
13
Jarak pagar
Jathropa curcas
Biji
Insektisida
14
Jeringau
Acarus calamus
Rimpang
Insektisida Fungisida
15
Kecubung
Datura sp.
Biji, daun
Insektisida
16
Kembang sungsang
Gloriosa superba
Akar
Insektisida
17
Kipahit
Tithonia sp.
Daun
Repelen
18
Kunyit
Curcuma domestica
Rimpang
Nematisida Rodentisida
19
Lada
Piper nigrum
Buah, biji
Insektisida Nematisida Fungisida
20
Legundi
Vitex trifolia
Daun
Insektisida
21
Lempuyang emprit
Zingiber Americans
Rimpang
Insektisida
22
Lempuyang gajah
Zingiber zerumbet
Rimpang
Insektisida
23
Lerak
Sapindus rarak
Buah, biji
Piscisida Insektisida
24
Mahoni
Swietenia macroplylla
Biji
Insektisida
25
Jambu mete
Anacardium occidentale
Kulit biji
Insektisida Nematisida Fungisida Bakterisida
26
Mimba
Azadirachta indica
Biji
Insektisida Nematisida
27
Nangka
Artocarpus heterophylus
Daun
Nematisida
28
Nilam
Pogostemon cablin
Daun
Insektisida Repelen
29
Patah tulang
Euphorbia turricalli
Daun
Molluskisida
30
Pepaya
Carica papaya
Akar, daun
Nematisida
31
Picung
Pangium edule
Buah
Insektisida
32
Piretrum
Chrysantemum spp.
Bunga
Insektisida
33
Saga
Abrus pecatorius
Biji
Insektisida
34
Secang
Caesalpinia sappan
Daun, bunga, biji
Insektisida
35
Selasih
Ocimum sp.
Daun
Atraktan
36
Sembung
Blumea balsamifera
Daun
Molluskisida
37
Senggugu
Clerodendron seratum
Daun
Rodentisida
38
Sereh dapur
Andropogon nardus
Daun
Insektisida Fungisida
39
Sirih
Piper bettle
Daun
Bakterisida Fungisida
40
Sirsak
Annona reticulate
Daun, biji
Insektisida
41
Srikaya
Annona squamosa
Biji
Insektisida Nematisida
42
Tefrosia
Tephrosia vogelii
Daun
Molluskisida
43
Tembakau
Nicotiana tabacum
Daun
Insektisida Fungisida Nematisida
44
Tembelekan
Lantana camara
Bunga, daun
Insektisida
45
Akar tuba
Derris elliptica
Akar
Piscisida Insektisida

Novizan (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan

Berikut adalah beberapa insektisida nabati yang telah dapat dimurnikan bahan aktifnya, dan diproduksi secara komersial, meskipun banyak di antaranya yang belum dipasarkan di Indonesia.

Asam sitrat (citric acid)


Asam sitrat diekstraksi dari buah jeruk, digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan berbagai jenis serangga, seperti semut, aphids, kumbang, ulat, wereng daun, kutu dompolan, tungau dan kutu kebul, pada tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias.

Azadiraktin (azadirachtin)


Ekstrak biji mimba (Azadirachta indica) sejak lama diketahui mempunyai efek insektisida. Azadiraktin (AZA) adalah senyawa kimia utama dari ekstraksi atas biji-biji mimba (neem). Disamping azadiraktin, ekstrak biji mimba juga mengandung senyawa limonoid lainnya, seperti nimbolid, nimbin dan salanin. Ekstrak biji mimba, atau “neememulsion” mengandung 25% (berat/berat) azadiraktin, 30-50% senyawa limonoid lainnya, 25% asam lemak dan 7% ester gliserol.

Azadiraktin bekerja sebagai antagonis ecdyson (ecdyson adalah hormon yang bertanggung-jawab atas proses pergantian kulit serangga), sehingga ecdyson tidak bekerja dengan baik dan serangga hama yang terpapar akan tergganggu proses ganti kulitnya, sehinnga mati. Oleh karena itu azadiraktin dapat diklasifikasikan sebagai penghambat pertumbuhan serangga (insect growth regulator : IGR)

Azadiraktin digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama dari genus-genus yang berbeda. Efektif untuk mengendalikan kutu kebul (Bemisia spp.), thrips, pengorok daun, aphids, larva Lepidoptera (ulat), kutu sisik, kumbang dan kutu dompolan, pada sayuran (tomat, kubis, kentang), kapas, teh, tembakau, kopi, dan tanaman hias.

LD50 (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg bb. Tidak menyebabkan iritasi pada kulit, tapi sedikit pada mata (kelinci). Klasifikasi toksisitas EPA (formulasi) kelas IV.

Azadiraktin dipasarkan di Indonesia dengan nama-nama dagang Natural 9 WSC, Nimbo 0,6 AS dan Nospoil 8 EC, dan didaftarkan (dalam hal ini Nimbo) untuk mengendalikan kutu daun Myzus persicae dan ulat grayak Spodoptera litura pada tanaman cabai (Anonim, 2006).
 
Azadiraktin-dihidro (dihydroazadirachtin)


Insektisida dihidroazadiraktin (DAZA) adalah bentuk terreduksi dari azadiraktin alami. Sifat-sifatnya mirip dengan azadiraktin, demikian halnya dengan cara kerja (mode of action) dan hama sasarannya.
LD50 (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg bb.

Ekstrak bawang putih 

Digunakan sebagai pengusir serangga (insect repellent) dan harus digunakan sebelum ada serangan serangga hama. Mungkin senyawa mengandung sulfur yang terdapat dalam ekstrak bawang putihlah yang bertanggung-jawab atas efek repellent-nya. Beberapa produk berisi ekstrak bawang putih telah diproduksi secara komersial. Dalam penggunaannya dicampur dengan horticultural oil atau minyak ikan, diencerkan sesuai dengan rekomendasi produsennya, dan disemprotkan dengan volume tinggi pada tanaman yang dilindungi. Waktu aplikasikan sebaiknya menjelang sore, dan diulangi setiap 10 hari.
 
Ekstrak bawang putih mungkin juga mengusir serangga penyerbuk. Karena itu jangan digunakan saat tanaman berbunga, apabila kehadiran serangga penyerbuk penting bagi produksi tanamannya. Ekstrak bawang putih praktis tidak berbahaya (dalam takaran normal). Ekstrak bawang putih juga dimanfaatkan sebagai suplemen makanan dan dalam masak-memasak.

Eugenol (4-allyl-2-methoxyphenol)


Eugenol (minyak cengkih) diekstrak dari berbagai jenis tanaman, termasuk cengkih, bersifat sebagai insektisida. Cengkih mengandung antara 14-20% minyak cengkih.
Digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga hama, termasuk kutu tanaman (aphids), ulat grayak, kumbang, ulat tanah, belalang, tungau, dsb., pada tanaman sayuran dan buah-buahan.

Kapsaisin (Capsaicin)


Kapsaisin adalah senyawa kimia yang terdapat pada tanaman Solanaceae dari genus Capsicum (berbagai macam cabai), dan merupakan senyawa kimia yang bertanggung-jawab atas rasa pedas pada cabai. Senyawa ini merupakan pengusir serangga dan tungau, serta mempunyai efek sebagai insektisida. Juga dikatakan dapat mengurangi transpirasi tumbuhan.

Produk komersial dengan nama dagang Armorex mengandung campuran ekstrak cabai (kapsaisin) dengan mustard oil (allyl isothiocyanate) digunakan dengan cara dikocorkan (soil drench) sebelum tanam, dan dapat mengendalikan berbagai jenis cendawan tular tanah (termasuk Pythium, Rhizoctonia, Phytophthora, Pyrenochaeta, Sclerotium, Armillaria dan Plasmodiophora), serangga tanah seperti ulat potong (Agrotis), lundi (uret, larva kumbang), molluska, nematoda (Tylenchus, Pratylenchus, Xiphinema, dsb.), serta sejumlah gulma.

Kapsaisin dikatakan dapat mengganggu metabolisme serangga dan bekerja pada susunan syaraf sentral serangga.
 
Karanjin


Insektisida dan akarisida karanjin diekstrak dari biji tumbuhan Derris indica (Pongamia pinnata). Bentuk WP didapat dengan menggiling biji hingga menjadi tepung. Digunakan untuk mengendalikan tungau, kutu sisik, serangga pengunyah dan penusuk-pengisap, serta beberapa jenis jamur. Terutama efektif untuk mengendalikan kutu kebul (whiteefly) thrips, pengorok daun, aphids, ulat, kutu sisik dan kutu dompolan pada berbagai jenis tanaman termasuk sayuran, kapas, teh, tembakau, dan tanaman hias.

Karanjin bekerja dengan berbagai macam cara. Karanjin adalah penghalau serangga (insect repellent), antifeedant (menghilangkan nafsu makan serangga), menekan kegiatan hormon ecdyson (hormon yang mengatur pergantian kulit serangga), karenanya bertindak sebagai insect growth regulator (IGR). Dikatakan pula bahwa karanjin mampu menghambat sitokrom P450 pada serangga dan tungau yang peka. Digunakan dengan cara disemprotkan.
Tidak ada bukti adanya efek alergi dan efek negatif lainnya, baik pada produsen, formulator maupun pengguna.
 
Minyak kanola (canola oil)


Minyak kanola diekstrak dari biji kanola (iolseed rape plants, Brassica napus dan Brassica campestris). Efektif untuk mengendalikan, dengan cara mengusir (insect repellent) berbagai jenis serangga hama pada berbagai jenis tanaman, termasuk sayuran, tanaman hias, buah-buahan, jagung, bit gula, kedelai, dan sebagainya. Digunakan dengan cara disemprotkan atau dialirkan lewat saluran irigasi.

Nikotin 

Nikotin adalah senyawa bioaktif kimia utama dari tanaman tembakau (Nicotiana tabacum, N. glauca dan N. rustica) serta beberapa tumbuhan dari familia Lycopodiaceae, Crassulaceae, Leguminosae, Chenopodiaceae dan Compositae. Nikotin sejak lama digunakan sebagai insektisida. Rata-rata kandungan nikotin pada N. tabacum dan N. rustica adalah 2% hingga 6% berat kering. Dahulu nikotin diproduksi dalam bentuk ekstrak dari daun tembakau, tetapi kini dibuat dan dijual dalam bentuk nikotin teknis atau nikotin sulfat.

Nikotin adalag racun non-sistemik, terutama aktif dalam fase uapnya, tetapi juga memiliki sedikit efek sebagai racun kontak dan racun perut. Bekerja pada syaraf serangga dengan memblok reseptor (penerima) kholinergik asetilkholin. Merupakan insektisida yang sangat toksik, berspektrum sangat luas, digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga hama, termasuk aphids, thrips dan kutu kebul; pada berbagai tanaman.

LD50 oral pada tikus antara 50-60 mg/kg, LD50 dermal (kelinci) 50 mg/kg. Mudah diabsorbsi oleh kulit, beracun bagi manusia bila berkontak dengan kulit. Merupakan racun inhalasi yang sangat toksik. Klasifikasi toksisitas WHO (bahan aktif) kelas Ib, dan EPA (formulasi) kelas I.

Piretrum


Bubuk piretrum, yakni tepung yang diperoleh dari bunga semacam krisan, telah digunakan sebagai insektisida di berbagai belahan bumi sejak jaman purba. Tanaman ini mungkin berasal dari Cina, yang selanjutnya menyebar ke barat lewat jalur sutera ke Persia pada abad pertengahan. Bubuk piretrum kemudian dikenal pula sebagai Persian Insect Powder. Selanjutnya tanaman ini menyebar ke pesisir laut Adriatik di Dalmatia (bagian dari Kroasia).

Piretrum diperoleh dari bunga tumbuhan semacam krisan, yakni Chrysantemum cinerariaefolium (Pyrethrum cinerariaefolium, Tanacetum cinereriaefolium). Ekstrak ini selanjutnya dimurnikan menggunakan metanol.
Ekstrak piretrum terdiri atas 3 kelompok senyawa, yang keseluruhannya terdiri atas 6 senyawa bioaktif yakni piretrin (piretrin I dan II), jasmolin (jasmolin I dan II) dan sinerin (sinerin I dan II).

Rotenon 

Rotenon merupakan senyawa kimia bersifat insektisida yang diekstrak dari tanaman akar tuba (Derris eliptica & Derris maccensis), Lonchocarpus sp., dan Tephrosia sp. Sejak lama perasan akar tuba digunakan untuk meracuni ikan.

Rotenon efektif untuk mengendalikan berbagai serangga hama, termasuk aphids, thrips, tungau, semut merah, dan sebagainya. Bila diaplikasikan ke air mampu mengendalikan larva nyamuk. Juga digunakan untuk mengendalikan ekto-parasit ternak (bidang peternakan) dan di bidang perikanan digunakan untuk mengendalikan ikan buas. Di bidang pertanian digunakan pada tanaman hias dan sayuran.

Rotenon bekerja sebagai penghambat transport elektron pada respirasi serangga sasaran (pada lokasi I). Bersifat non-sistemik, racun kontak dan racun lambung.

LD50 oral (tikus putih) 132-1500 mg/kg, mencit putih 350 mg/kg. LD50 dermal (kelinci) >5000 mg/kg bb. Kelas toksisitas WHO (bahan aktif) kelas II, EPA (formulasi) kelas I dan III. Perkiraan dosis mematikan untuk manusia antara 300-500 mg/kg. Sangat beracun bila terhisap dibandingkan dengan bila termakan. Rotenon beracun bagi ikan, dan sangat beracun bagi babi.

Ryania


Ryania diekstrak dari tumbuhan Ryania speciosa, dan digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan serangga Cydia pomonella, penggerek batang jagung Ostrinia nubilalis serta thrips pada jeruk. LD50 oral (tikus) 1200 mg/kg bb.

Sabadila 


Sabadila diekstrak dari biji Schoenocaulon officinale dan mengandung bahan aktif veratrin yang merupakan campuran 2 : 1 dari sevadin, veratridin dan komponen minor lainnya. Sabadila merupakan insektisida kontak dan selektif untuk untuk mengendalikan thrips pada jeruk dan advokat.

Sitronela


Sitronela diakstrak dari tanaman sereh wangi, dan telah digunakan sebagai pengusir (insect repellent) nyamuk, dsb., sejak 1901. Kecuyali mengandung sitronela, ektrak tanaman ini juga mengandung senyawa-senyawa minor lainnya, seperti alpha-sitronela, sitronelol dan alpha-sitronelol.

Daftar Pustaka

  • Anonim (2006): Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Depatemen Pertanian Republik Indonesia.
  • Anonim: Bacillus thuringiensis. Wilkipedia http;//www.wilkimediafoundation. org/
  • Baehaki, Dr. Ir. SE (1993): Insektisida Pengendalian Hama Tanaman. Angkasa, Bandung.
  • Beattle, GAC; O. Nicetic, AS. Kalianpur dan Z. Hossain (2004): Managing Resistance with Horticultural Mineral Oils. Some Example from Different Crop. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Management Resistensi Pestisida dalam Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu. UGM, Yogyakarta, 24-25 Februari 2004.
  • Copping, LG (editor, 2004): The Manual of Biocontrol Agents. BCPC
  • Extoxnet (1996): Abamectin. Extesion Toxicology Network. http://npic.orst.edu/
  • Fisher, Hans-Peter, et al (1922): New Agrochemicals Based on Microbial Metabolites: New Biopesticides. Proceeding of the ’92 Agricultural Biotechnology Symposium on Biopesticides, Korea, September 1992
  • Flint, Mary Louis dan Robert Bosch (1991): Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Edisi terjemahan Indonesia, Kanisius, Yogyakarta.
  • Habazar, Prof. Dr. Ir. Trimurti, dan Dr. Ir. Yaherwandi Msi (2006): Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas University Press, Padang.
  • Luthy, P (1993): Tailor-Made Insect Control with Bacillus thuringiensis. Insect Control No. 20, May 1993.    
  • Novizan, Ir. (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
  • NPTN: Bacillus thuringiensis, General Fact Sheet. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/
  • NPTN: Pyrethrin & Pyrethroid. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/
  • Pitterna, Thomas (1997): Macrolides as Pest Control Agents: Avermectin and Milbemycins. Insecticide Newsletter No. 3, December 1997
  • Shepard, B.M.; dkk (1987): Friends of Rice Farmer. Helpful Insects, Spiders, and Pathogen. International Rice Research Institute. Los Banos, Laguna, the Philippines.
  • Singleton, Paul; dan Diana Sainsbury (19981): Dictionary of Microbiology. John Wiley & Sons.
  • Tomlin, CDS (editor, 2001): The Pesticide Manual. BCPC
  • Wood, Alan (1995-2007): Compendium of Pesticide Common Name: Insecticides. http://www.alanwood.net.

Demikian sebagian artikel yang ditulis oleh Bapak Panut Djojosumarto tentang Insektisida dan Akarisida Yang Berasal Dari Alam yang kali ini dengan sub judul Insektisida nabati. Semoga bisa menjadi pedoman bagi petani Indonesia dalam memilih bahan nabati untuk mengendalikan serangan hama maupun penyakit pada tanamannya.

Bagi anda Petani Indonesia yang berminat tentang organik khususnya pestisida alami maspary masih akan tetap berlanjut dipostingan kedepan bersama Gerbang Pertanian yang akan mengulas tentang Insektisida Mikrobiologi by Bapak Panut Djojosumarto.

Maju Pertanian Indonesia!!

Maspary

Terimakasih telah berkunjung ke Gerbangpertanian.com, jika ingin melengkapi artikel ini silahkan tulis di kolom komentar. Jika anda menyukai artikel ini bagikan ke rekan-rekan anda dengan mengklik tombol suka dibawah ini..

1 comments:

petani said...

terima kasih,pak atas berbaginya .yang jelas bermanfaat buat pelaku pertanian organik.

Post a Comment