Thursday, October 20, 2011

INSEKTISIDA MIKROBIOLOGI (Insektisida dan Akarisida Alami II)

Seperti janji saya kemarin dalam pertemuan kali ini Maspary masih melanjutkan artikel dari Bpk Panut Djojosumarto yang bertema insektisida dan akarisida yang berasal dari alam, kali ini yang akan Gerbang Pertanian postingkan adalah tentang Insektisida Mikrobiologi.

Ternyata potensi pengembangan insektisida mikrobiologi masih sangat terbuka dan kenyataan dilapangan belum banyak dimanfaatkan oleh petani Indonesia.  Marilah kita pelajari bersama tentang Insektisida dan akarisida yang berasal dari alam untuk mengurangi ketergantungan kita pada pestisida kimia. Marilah kita manfaatkan keanekaragaman hayati disekitar kita untuk mengefisienkan biaya produksi usaha tani kita.

Bagi rekan-rekan Gerbang Pertanian yang belum sempat membaca artikel dari Panut Djojosumarto sebelumnya yang berjudul Insektisida dan Akarisida Alami I silahkan baca dulu Klik disini.

 

 

Insektisida Mikrobiologi

Panut Djojosumarto
djojosumarto.panut@gmail.com

 

Mikroorganisme berasosiasi dengan serangga dengan berbagai macam cara, mulai dari asosiasi mutualistik (simbiose) sampai yang bersifat parasitik. Mikroorganisme parasit ini dapat menyebabkan penyakit bagi serangga, dan dikenal sebagai patogen serangga (entomopatogen). Telah diketahui bahwa ada sekitar 1500 spesies mikroba menyebabkan penyakit pada antropoda, termasuk serangga.

Berbagai patogen serangga yang telah dimanfaatkan sebagai insektisida mikrobiologi ditampilkan di bawah ini. Banyak diantaranya telah diproduksi secara komersial.

 

  1. Insektisida Dari Jamur
    Beauveria spp.
    Hirsutela thompsonii (akarisida)
    Lagenidium giganteum
    Lecanicillium lecanii (dahulu Verticillium lecanii)
    Metarhizium spp
    Paecilomyces fumosoroseus (+ akarisida)
  2. Insektisida Dari Bakteri
    Bacillus spp.
    Paenobaccilus popilliae (dahulu Bacillus popilliae)
    Serratia entomophila
  3. Insektisida Dari Nematoda
    Heterorhabditis spp.
    Steinernematidae spp.
  4. Insektisida Dari Protozoa: Microsporidium
    Nosema locustae
    Vairimorpha necatrix
  5. Insektisida Dari Virus
    Granulosis virus (GV)
    Nucleopolyhedro virus (Nuclear Polyhedrosis Virus, NPV)

 

Insektisida Mikrobiologi: Jamur


Tidak seperti patogen serangga lainnya ( misalnya bakteri dan virus) yang umumnya harus di makan dan dicerna agar dapat menginfeksi inangnya, jamur dapat menginfeksi inangnya (dalam hal ini serangga hama) dengan cara penetrasi langsung. Apabila spora jamur menempel pada kulit serangga, dan apabila kondisi mendukung, maka spora akan berkecambah, menembus kutikula serangga dan masuk kedalam tubuh serangga. Dalam tubuh serangga jamur akan berkembang membentuk hifa dan miselium hingga memenuhi bagian dalam tubuh serangga, hingga serangga akhirnya mati. Jamur kemudian hidup sebagai saprofit dan menyerap hara dari tubuh serangga yang sudah mati. Tubuh buah jamur kemudian muncul dari bangkai serangga inang, menghasilkan spora, dan siap disebarkan untuk menginfeksi serangga lainnya.

 

Tanaka dan Kaya (1993) telah mendata jamur penyebab penyakit serangga (entomopatogen) yang terdapat dalam 8 kelas, 13 ordo dan 57 genus. Banyak diantaranya yang bersifat sangat spesifik (hanya menginfeksi serangga tertentu).

 
Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin

Digunakan sebagai insektisida. Jamur ini dahulu dikenal dengan nama Botrytis bassiana. Jamur entomopatogen (penyebab penyakit serangga) ini menginvasi tubuh serangga sasaran. Spora (konidia) jamur akan menempel pada kutikula serangga, dan saat berkecambah, benang jamur (hifa) akan menembus kutikula dan berkembang didalam tubuh serangga. Untuk perkecambahan diperlukan kelembapan tinggi serta air bebas. Infeksi bisa memakan waktu 24 hingga 48 jam, tergantung pada temperatur. Serangga sasaran masih hidup 3 hingga 5 hari sesudah infeksi, sebelum akhirnya mati. Sesudah serangga sasaran mati, spora jamur akan terus diproduksi diluar tubuh serangga. Insektisida berbasis B. bassiana adalah racun kontak dan bersifat sangat spesifik pada serangga sasaran. 

Diaplikasikan dengan disemprotkan pada kanopi tanaman. Dapat diaplikasikan bersama insektisida lain, dengan tambahan ajuvant dan sebagainya. Jangan digunakan bersama fungisida, dan tunggu hingga 48 jam sebelum menggunakan fungisida. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam, basa dan jangan dicampur dengan air yang mengandung klorin.
Tidak menyebabkan infeksi pada tikus sesudah perlakuan 21 hari. Oral LD50 pada tikus >18 X 108 cfu/kg, dermal (tikus) >2000 mg/kg. Menyebabkan iritasi pada mata, kulit dan sistim pernafasan.

 
Produk berbasis Beauveria bassiana yang telah diproduksi secara komersial terdiri atas isolat-isolat berikut:

  • Beauveria bassiana isolat BB 147
    Isolat ini digunakan untuk mengendalikan penggerek tongkol jagung (Ostrinia nubilalis, european corn borer dan Ostrinia furnacalis, asian corn borer), pada tanaman jagung.
    padi.

image

 
Gambar 01:: Wereng coklat dan walangsangit terinfeksi jamur Beauveria bassania (dari Shepard, dkk; IRRI)

  • B. bassiana isolat stanes
    Isolat ini digunakan untuk mengendalikan penggerek buah kopi, lundi (uret), penngerek buah kapas, ulat potong (cutworm), wereng batang coklat dan ulat kubis, pada tanaman teh, kopi, kapas, tomat, okra, terung dan
  • B. bassiana isolat GHA
    Isolat GHA terutama efektif untuk mengendalikan kutu kebul (whitefly), thrips, aphids, serta kutu dompolan, pada tanaman sayuran dan tanaman hias..
  • B. bassiana isolat ATCC 74040
    B. bassiana isolat ATCC 74040 efektif untuk mengendalikan Coleoptera dan Hemiptera pada lapangan rumput dan tanaman hias.


Beauveria brongniartii (Saccardo) Petch

 
Jamur yang dimanfaatkan sebagai insektisida ini pernah dikenal dengan nama Beauveria tenella. Dewasa ini ada 3 isolat yang dikomersialkan, yakni isolat Bb96 (isolat Swiss) dan IMBST 95.031 serta 95.041 (isolat Austria). Seperti jamur entomopatogen lainnya, jamur ini juga menyerang tubuh serangga sasaran. Spora (konidia) jamur akan menempel pada kutikula serangga, dan saat berkecambah, benang jamur (hifa) akan menembus kutikula dan berkembang didalam tubuh serangga. Untuk perkecambahan diperlukan kelembapan tinggi serta air bebas. Infeksi bisa memakan waktu 24 hingga 48 jam, tergantung pada temperatur. Serangga sasaran masih hidup 3 hingga 5 hari sebelum akhirnya mati. Sesudah serangga sasaran mati, spora jamur akan terus diproduksi diluar tubuh serangga. Insektisida berbasis B. bassiana adalah racun kontak dan bersifat sangat spesifik pada serangga sasaran.

Dapat diaplikasikan bersama pestisida kimia lainnya, kecuali fungisida.
Diklasifikasikan sebagai non-toksik, dengan LD50 oral (tikus) >5000 mg/kg, dermal (tikus) >2000 mg/kg, menimbulkan iritasi ringan pada kulit kelinci.

  • B. brongniartii isolat Bb96
    Isolat ini diisolasi dari semacam uret (lundi) Hoplochelus marginalis yang terdapat di Madagaskar,oleh CIRAT/IRAT, Prancis. Prises untuk formulasinya sekarang dimiliki oleh Natural Plant Protection (NPP). Digunakan untuk mengendalikan uret Hoplochelus marginalis pada tanaman tebu. Diaplikasikan di tanah saat tanam pada alur-alur tanaman, atau pada pangkal ratun tebu.
  • B. brongniartii isolat IMBST 95.031 dan 95.041
    Isolat ini diisolati dari padang rumput yang diserang oleh larva Melolontha melolontha oleh Istitut Mikrobiologi Universitas Leopold-Franzens di Austria. Digunakan untuk mengendalikan larva Melolontha melolontha diaplikasikan pada benih yang akan ditanam.

 
Hirsutella thompsonii Fisher

Akarisida biologis komersial berisi jamur Hirsutella thompsonii isolat MF(Ag)S (ITCC 4962; IMI 385470), digunakan untuk mengendalikan tungau dari famili Eriophyidae, terutama tungau kelapa Aceria guerreronis. Pertama kali diisolasi dari tungau Eriophyidae di Tamil Nadu, India.

Jamur ini bekerja dengan mendegradasi kutikula tungau. Spora jamur yang menempel pada kulit tungau, bila kondisi menunjang, akan berkecambah dan germ tube dengan kekuatan fisik dan enzym akan memasuki kutikula tungau dan selanjutnya hifa jamur berkembang dalam tubuh tungau, memproduksi spora pada kutikula tungau baik yang masih hidup atau yang sudah mati, dan melanjutkan siklus hidup selanjutnya.

Sediaan komersial yang mengandung spora H. tompsonii diaplikasikan dengan cara disemprotkan bila kondisi cuaca kering. Jangan dicampur dengan fungisida, terutama ditiokarbamat. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuta, asam, basa, dan jangan dicampur dengan ir yang mengandung klorin.

Hirsutella thompsonii tidak menyebabkan iritasi kulit dan mata, tidak ada bukti menyebabkan keracunan akut maupun kronis. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna H. thompsoni.

 
Lagenidium giganteum Couch


Lagenidium giganteum digunakan untuk mengendalikan larva nyamuk, yang meluputi genus-genus Aedes, Anopheles, Coquillettidea, Culex, dan sebagainya.
L. giganteum adalah parasit dari larva nyamuk. Zoospora jamur, bila diaplikasikan dalam air, akan mencari larva nyamuk dan menempel pada kutikula. Selanjutnya zoospora akan berkecambah dan menembus kutikula larva, dan selanjutnya berkembang dalam tubuh jentik-jentik nyamuk dan khirnya menyebabkan kematian.


Lecanicillium lecanii (Zimmerman) Gams & Zare

Dahulu dikenal dengan nama lama Cephalosporium lecanii atau Verticillium lecanii. Jamur L. lecanii adalah entomopatogen yang bertindak dengan mendegradasi kutikula serangga sasaran. Spora yang menempel pada kutikula serangga, saat berkecambah akan masuk kedalam tubuh serangga dengan menembus kutikula, baik dengan kekuatan fisik maupun bantuan enzym. Hifa jamur kemudian akan berkembang dalam tubuh serangga yang menyebabkan serangga sakit dan akhirnya mati.

Diaplikasikan pada kanopi daun dengan semprotan volume tinggi, sebagiknya saat kelembapan tinggi. Jamur ini tidak menyebabkan keracunan pada tanaman (non-fitotoksik) dan juga non-fotipatogenik (tidak menyebabkan penyakit pada tanaman). Peka terhadap sejumlah fungisida, terutama ditiokarbamat. Tidak boleh dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin.

L. lecanii tidak menyebabkan iritasi kulit dan mata. Tidak ada bukti bahwa L. lecanii menyebabkan keracunan akut atau kronis, dan tidak menyebabkan infeksi pada mamalia. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna H. thompsoni.

  • L. lecanii isolat aphids
    Isolat aphids (aphids isolate) ditemukan oleh R.A. Hall, dan diisolasi dari semacam aphids, Macrosiphoniella sanborni, digunakan untuk mengendalikan aphids, kutu kebul (whitefly), thrips dan kutu sisik pada sayuran, tanaman hias dan tanaman lainnya.
  • L. lecanii isolat kutu kebul (whitefly)
    L. lecanii Isolat kutu kebul (whitefly isolate) juga ditemukan oleh R.A. Hall, dan diisolasi dari kutu kebul rumah kaca, Trialeurodes vaporariorum. L. Lecanii whitefly isolate dimanfaatkan untuk mengendalikan terutama kutu kebul, dengan efek samping pada thrips.


Metarhizium anisopliae Sorok

Insektisida biologi Metarhizium anisopliae dahulu dikenal dengan nama Penicillium anisopliae dan Entomophthora anisopliae. Jamur yang umum terdapat pada serangga yang mati, dan produk komersial diisolasi dai wereng batang padi (Nilaparvata lugens). Ada produk yang khusus untuk mengendalikan rayap, ada pula yang diregistrasi untuk wereng padi (Nilaparvata lugens) dan hama lain dari ordo Coleoptera dan Lepidoptera, ada pula yang khusus untuk mengendalikan kecoa.

 

M. anisopliae merupakan entomopatogen yang efektif, menyerang serangga sasaran dengan cara menembus kutikula serangga, dan hifa jamur kemudian berkembang dalam tubuh serangga, yang menyebabkan sakit dan kematian. Setelah diaplikasikan, jamur akan menginvasi serangga sasaran dalam 2 hari, dan akan mati dalam 7 – 10 hari. Serangga yang mati akan tetap melekat pada tanaman, dan spora yang diproduksi oleh jamur akan menambah dan mempertahankan adanya inokulan yang cukup bagi serangga hama yang datang kemudian.

Produk untuk bidang pertanian diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Sedangkan untuk mengendalikan rayap diaplikasikan pada lubang-lubang rayap atau jalur yang dilalui rayap. Gunakan produk berbasis M. anisopliae secara single, tidak kompatibel dengan fungisida, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin.Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna H. thompsoni.

Beberapa varitas dan isolat M. anisopliae juga telah diisolasi dan dikembangkan, serta diguanakan untuk mengendalikan hama yang berbeda, seperti dibawah ini.

  • M. anisopliae var. acridium
    Jamur ini khusus digunakan untuk mengendalikan belalang. Produk komersial terdiri atas isolat IMI 330189 dan FI-985.
  • M. anisopliae var. anisopliae
    Varitas khusus untuk mengendalikan larva kumbang (uret, lundi) Dermolepida albohirtum pada perkebunan tebu.
    16
  • M. anisopliae isolat ICIPE 30
    Isolat jamur M. anisopliae khusus untuk mengendalikan rayap dari genus Macrotermes, Microtermes dan Odontotermes, pada pertanaman jagung, ubi kayu, jeruk, kopi, agroforestry, dan sayuran yang diserang rayap. Juga digunakan untuk melindungi bangunan, dsb. dari serangan rayap.
  • M. anisopliae isolat ICIPE 69
    Produk ini khusus untuk mengenalikan hama thrips (Megalurothrips sjostedti, Thrips tabaci dan Frankliniella occidentalis), pada tanaman sayuran dan tanaman hias.

image

Gambar 02: Hama dari Ordo Coleoptera terinfeksi jamur Metarhizium anisopliae (dari Shepard, dkk. IRRI)


Metarhizium flavoviridae var. flavoviridae Gams & Rozsypal


Metarhizium flavoviridae var. flavoviridae isolat F001, digunakan untuk mengendalikan Adoryphorus coulani pada lapangan rumput (turf).

Paecilomyces fumosoroseus (Wiize) AHS Brown & G. Smith

Paecilomyces furosomoseus merupakan insektisida dan akarisida berbasis jamur yang dimanfaatkan untuk emngendalikan berbagai jenis serangga, seprti kutu kebul (Trialeuroes vapororiorum dan Bemisia tabaci). Juga memiliki efikasi terhadap aphids, thrips dan tungau (spider mites). Isolat Apopka 97 (PFR 97) dari jamur ini telah diproduksi secara komersial, dan direkomendasikan untuk digunakan pada tanaman hias serta tanaman pangan, baik di dalam rumah kaca atau di lapangan.

image

 
Gambar 03: Wereng coklat terinfeksi jamur Metarhizium flavoviridae (dari Shepard, dkk; IRRI)

 


Insektisida Mikrobiologi: Bakteri


Bakteri penyebab penyakit serangga umumnya dibagi ke dalam kelompok besar, yakni bakteri yang tidak membentuk spora dn bakteri yang membentuk spora. Kebanyakan spesies bakteri entomopatogen yang diisolasi dari serangga yang sakit adalah bakteri yang tidak membentuk spora. Akan tetapi untuk produksi komersial, bakteri yang membentuk spora lebih mudah (relatif) diformulasi, karena dalam bentuk spora bakteri tidak membutuhkan makanan dan dapat disimpan lebih lama.

Agar efektif untuk mengendalikan serangga, bakteri umumnya harus dimakan dan masuk ke dalam saluran cerna serangga terleih dahulu.

Bacillus sphaericus Neide


Bakteri ini terutama digunakan sebagai insektisida biologi di bidang kesehatan masyarakat untuk mengendalikan nyamuk, terutama efektif untuk Culex spp. Bacillus sphaericus isolat 2362 dipilih untuk dikomersialkan karena isolat ini efektif untuk mengendalikan larva Culex spp. B. sphaericus bertindak sebagai racun perut, dan saat sporulasi bakteri menghasilkan kristal protein. Setelah termakan, dalam usus serangga kristal protein yang merupakan pro-toksin ini akan dirubah menjadi racun (toksin) oleh enzym protease. Toksin ini selanjutnya akan terikat pada sel-sel usus tengah (midgut) pada lokasi spesifik dimana mereka aktif sebagai racun, dan akhirnya mematikan serangga dengan menghancurkan selaput usus.

Diaplikasikan ke dalam air dimana larva nyamuk hidup. Kompatibel dengan insektisida lain, jangan diaplikasikan bersama fungisida berbasis tempaga atau algisida. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam, basa, dan jangan dicampur dengan air yang mengandung klorin.

Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna B. sphaericus. Oral LD50 akut (tikus) >5000 mg/kg, dermal (kelinci) >2000 mg/kg, menyebabkan iritasi mata dan iritasi kulit ringan pada kelinci.

Bacillus thuringiensis Berliner


B. thuringiensis (Bt) mungkin merupakan insektisida mikrobiologi yang paling luas dikenal. Bakteri gram positif ini dideteksi pertama kali pada tahun 1902 pada larva ulat sutera (Bombyx mori) yang mati. Di Eropa, Bt diketemukan juga diketemukan sebagai penyakit pada bubuk tepung di Thuringen (Jerman). Sejak diketemukannya, memakan waktu 50 tahun sebelum akhirnya diketahui bahwa semacam protein yang dihasilkan ketika bakteri ini mencapai fase sporulasi, bertanggungjawab atas efek insektisidanya.

Bacillus thuringiensis (Bt) merupakan patogen (penyebab penyakit) bagi berbagai jenis serangga yang sangat spesifik. Bt merupakan insektisida racun perut. Saat sporulasi, bakteri menghasilkan kristal protein yang mengandung beberapa senyawa insektisida yang bekerja merusak sistem percernaan serangga. Setelah termakan kristal protein ini akan dilarutkan oleh enzym protease, kemudian toksin yang dihasilkan akan terikat pada sel usus tengah (midgut) serangga pada reseptor sipesifik. Racun ini menghancurkan selaput usus serangga, serangga akan berhenti makan dan mati dalam 2 – 3 hari (sumber lain 1 – 4 hari).

Dari B. thuringiensis didapat 4 agen toksik, yakni alpha-eksotoksin (enzym fosfolipsa), beta-eksotoksin (suatu nukleotida), gamma-eksotoksin (fosfolipasa) dan delta-endotoksin (parasporal inclusion protein). Setiap toksin terikat pada reseptor spesifik yang berbeda, dan ini menjelaskan adanya selektivitas yang berbeda dari beberapa isolat atau subspesies Bt.

Studi yang dilakukan secara luas pada pestisida berbasis Bacillus thuringiensis menunjukkan bahwa B. thuringiensis dan isolat-isolatnya diklasifikasikan sebagai non-toksik. LD50 oral tidak ada infeksi atau keracunan yang diamati pada tikus yang diperlakukan dengan 4.7 X 1011 spora per kg produk. Dermal LD50 (tikus) >5000 mg.kg bb. Beberapa produk dapat mengakibatkan iritasi mata sementara (mungkin karena bahan pembawanya). Klasifikasi EPA (formulasi) kelas III. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna B. thuringiensis.

Dikenal adanya beberapa varitas atau subspecies Bt, masing-masing dengan berbagai strain, isolat dan sebagainya. Beberapa diantaranya yang telah diproduksi secara komersial adalah sebagai berikut.

image

Gambar 04: Kristal protein Bacillus thuringiensis morrisoni strain T08025 (dari Wilkipedia)

  • B. thuringensis subsp. kurstaki
    Digunakan untuk mengendalikan berbagai larva Lepidoptera, terutama ulat daun kubis (diamond-back moth: Plutella xylostella) pada kubis, dan lepidoptera lainnya pada sayuran dan kehutanan.
  • B. thuringiensis subsp. morrisoni isolat Sa-10 dan NovoBtt
    Dahulu dikenal sebagai Bacillus thuringiensis subsp. tenebrionis atau Bacillus thuringiensis subsp. san diego. Subspesies ini efektif untuk mengendalikan Coleoptera, baik larva maupun serangga dewasa, terutama kumbang kolorado (Leptinotarsa decemlineata) pada tanaman kentang dan Solanaceae lainnya.
  • B. thuringiensis subsp. aizawai
    Beberapa isolat dan konjugat Bacillus thuringiensis subsp. aizawai digunakan untuk mengendalikan larva Lepidoptera, termasuk Spodoptera spp., juga yang sudah resisten terhadap subsp. kurstaki.
  • B. thuringiensis subsp. japonensis
    Bacillus thuringiensis subsp. japonensis efektif intuk mengendalikan kumbang tanah pada lapangan rumput dan tanaman hias.
  • B. thuringiensis subsp. israelensis
    Bt. subsp israelensis hanya efektif untuk mengendalikan Diptera, seperti lalat dan nyamuk, di saerah perairan (saluran buangan, dsb.).

 
Paenibacillus popilliae Newman


Sebelumnya dikenal dengan nama Bacillus popilliae diketemukan oleh pegawai Deptan Amerika. Bakteri ini diisolasi dari Popillia japonica, dan digunakan untuk mengendalikan kumbang ini.

 
Serratia entomophila Grimont


Bakteri yang dimanfaatkan untuk mengendalikan semacam lundi (uret) dari kumbang Costelytra zealandica) pada padang rumput (turf) di New Zealand.

 

 
Insektisida Mikrobiologi: Virus


Berbagai virus secara alami diketahui merupakan patogen (penyebab penyakit) yang dapat menyebabkan kematian serangga. Virus patogen ini umumnya bersifat sangat spesifik, hanya mengendalikan satu jenis serangga hama saja. Tentu selalu ada kekecualian, misalnya Anagrapha falfifera nucleopolyhedrovirus (AfNPV) mampu mengendalikan lebih dari 30 spesies larva Lepidoptera yang berbeda.


Insektisida berbasis virus umumnya merupakan larvisida (hanya membunuh larva serangga) racun lambung. Virus harus dimakan terlebih dahulu oleh serangga hama, dan didalam sistim pencernaan serangga virus mulai berkembang dan menyebabkan penyakit serta membunuh serangga hama. Kematian karena virus patogen ini umumnya cukup lama, antara beberapa hari hingga dua minggu sesudah aplikasi. Efikasi insektisida virus juga dipengaruhi oleh kondisi alam, seperti suhu udara dan perkembangan larva serangga.

 
Insektisida berbasis virus diberi nama menurut serangga hama yang diserangnya. Misalnya, Spodoptera exigua nocleopolyhedrovirus (SeNPV) adalah virus yang menyerang, dan karenanya hanya digunakan untuk mengendalikan Spodoptera exigua. Adoxophyes orana granulosis virus (AoGV) adalah virus yang merupakan penyakit pada, dan karenanya hanya digunakan untuk mengendalikan Adoxophyes orana.


Sejumlah virus yang merupakan penyakit bagi serangga hama telah berhasil diisolasi, dikembangkan, dan diproduksi secara komersial, terutama dari kelompok nucleopolyhedrovirus dan granulosis virus (keduanya adalah Baculovirus). Beberapa diantaranya dicantumkan berikut ini.


Granulosis Virus


Insektisida berbahan aktif granulosis virus bersifat sebagai racun lambung. Serangga harus memakan virus agar virus efektif membunuhnya. Sesudah termakan, dinding pembungkus protein virus akan terlarutkan dalam usus serangga yang bersifat alkalis, dan partikel virus akan dilepaskan kedalam usus serangga. Virus kemudian akan menginvasi inti sel (nukleus) dan berkembang biak di dalamnya, menyebabkan serangga yang terpapar sakit, dan berakhir dengan kematian. Efek virus terhadap serangga hama amat lambat jika dibandingkan dengan kebanyakan insektisida kimiawi. Serangga hama akan mati 6 hingga 12 hari sesudah terpapar (makan) virus, pada kondisi normal. Granulosis virus lebih efektif mengendalikan larva yang masih kecil daripada larva dari stadia lanjutn. Virus yang dilepaskan dari tubuh serangga yang mati masih tetap mampu mengeinfeksi serangga hama.

 

Adoxophyes orana granulosis virus (AoGV)


Adoxophyaes orana granulosis virus (AoGV) adalah virus yang terdapat luas secara alami sebagai penyakit (patogen) pada fruit tortrix moth (Adoxophyes orana). Produk insektisida biologi komersial diisolasi dari A. orana yang terinfeksi. AoGV digunakan hanya untuk mengendalikan fruit tortrix moth (Adoxopyes orana) pada beberapa tanaman buah.

 
AoGV diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Karena virus ini sangat efektif untuk mengendalikan larva instar pertama, maka pengamatan saat penerbangan dan masa bertelurnya serangga sangat penting. Penyemprotan sebaiknya dilakukan saat serangga meletakkan telurnya. Aplikasi dilakukan secara merata pada permukaan daun, dan gunakan air yang pH-nya antara 6-8. Jangan gunakan air yang mengandung klorin untuk mencampurnya. Dapat digunakan bersama pestisida lain yang tidak mengandung tembaga, serta tidak mempunyai efek repellent terhadap Adoxophyes orana.


Tidak ada bukti bahwa AoGv berpengaruh terhadap organisme lain, kecuali Adoxopyeas orana. AoGv tidak stabil pada pH yang ekstrim dan terhadap cahaya ultra violet.

Tidak ada bukti bahwa virus ini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna AoGV.

 
Cydia pomonella granulosis virus (CpGV)

Virus ini merupakan penyakit alami dari codling moth (Cydia pomonella), semacam hama yang umum menyerang buah apel dan pir. Larva C. pomonella yang diinfeksi oleh virus ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1964 di Meksiko.
CpGV digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan hama codling moth (Cydia pomonella) pada buah apel, pir dan walnut. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan. Pengamatan sangat diperlukan agar CpGV dapat diaplikasikan pada saat yang tepat sehingga efektif.


Dapat diaplikasikan dengan produk perlindungan tanaman lainnya yang bukan repellent bagi C.pomonella. Gunakan air yang pH-nya antara 6 – 8, dan jangan menggunakan air yang mengandung klorin untuk mencampurnya. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa.

 
Tidak ada bukti bahwa CpGV menyebabkan keracunan baik akut maupun kronis, dan tidak pula menyebabkan iritasi mata pada mamalia. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna CpGV.


Plodia interpunctella granulosis virus (IMMGV)


Virus ini merupakan penyakit Plodia interpunctella (Indian Meal Moth, karenanya disebut Indian Meal Moth Granulosis Virus, IMMGV), sejenis hama gudang yang merusak buah-buahan kering dan kacang-kacangan. Virus ini dibiakkan dan diproduksi secara komersial sebagai insektisida biologi untuk mengendalikan hama ini.


Nucleopolyhedro Virus


Seperti insektisida virus lainnya, nucleopolyhedrovirus adalah racun perut. Setelah diaplikasikan dan termakan oleh larva serangga hama sasaran pelindung matriks protein virus akan terlarutkan di dalam usus serangga, dan partikel virus akan memasuki sistim sirkulasi serangga. Partikel virus akan menyerang semua jenis sel dalam tubuh larva, berkembang biak sehingga larva sakit dan akhirnya mati. Bila serangga inang mati, virus akan tetap hidup 7 hingga 14 hari dipermukaan daun.

Anagrapha falcifera nicleopolyhedrovirus (AfNPV)

AfNPV adalah virus yang terdapat secara alami, menyebabkan penyakit serta kematian pada ulat alfalfa (Anagrapha falcifera). Tidak sebagaimana insektisida virus lainnya yang umumnya sangat spesifik (hingga spesies), AfNVP mampu menginfeksi lebih dari 30 spesies Lepidoptera, sehingga dapat menutupi terlalu sempitnya spektrum pengendalian kebanyakan insektisida virus pada situasi perlindungan tanaman umumnya. AfNVP digunakan untuk mengendalikan berbagai larva Lepidoptera, terutama genus Heliothis dan Helicoverta, seperti Helicoverpa zea dan Heliothis virescens, pada tanaman-tanaman jagung, kapas, tomat dan sayuran lainnya, tanaman buah dan tanaman hias.


Diaplikasikan dengan cara disemprotkan dengan volume tinggi pada permukaan daun hingga merata. Monitoring kapan serangga bertelur sangat penting, karena AfNVP lebih efektif mengendalikan larva yang baru menetas dari pada larva yang sudah lanjut. Dapat dicampur dengan insektisida lain yang bukan repellent dari serangga sasaran. Jangan dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa atau air yang mengandung klorin.


Virus ini spesifik menyerang invertebrata, tidak ada catatan bahwa virus ini menginfeksi vertebrata. Virus tidak menginfeksi dan tidak berkembang biak pada tubuh mamalia dan tidak aktif pada temperatur >32oC. Tidak ada bukti bahwa virus ini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna AfNPV.


Anticarsia gemmatalis Nucleopolyhedro virus (AgNPV)


Virus ini diisolasi dari ulat (Anticarsia gemmatalis) yang menyerang semacam kacang (velvet bean) yang terdapat pada tanaman kedelai di Amerika. Belakangan, isolat baru diisolasi dari ulat penggerek tebu Diatraea saccharalis, yang lebih mudah dipelihara dibandingkan Anticarsia.


AgNVP digunakan sebagai insektisida biologi untuk mengendalikan ulat Anticarsia gemmatalis dan penggerek batang tebu (Diatraea saccharalis).


Autographa californica nucleopolyhedrovirus (AcNVP)


Virus ini diisolasi dari Autographa californica yang terinfeksi. AcNVP sebagai insektisida biologi memiliki spektrum pengendaliannya cukup luas (lebih dari 30 spesies Lepidoptera) untuk mengendalikan larva Lepidoptera, pada jagung, sayuran, tanaman buah-buahan, dan tanaman hias.

 
Diaplikasikan dengan semprotan volume tinggi hingga merata pada permukaan daun. Dapat dicampur dengan insektisida lain yang bukan repellent dari serangga sasaran. Jangan dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa atau air yang mengandung klorin.

 
Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna AcNVP.

 

Helicoverpa armigera nucleopolyhedrovirus (HaNPV)

Sering disebut pula sebagai Heliothis armigera nucleopolyhedrovirus (HaNPV). Virus ini terdapat luas di alam, merupakan penyakit alami bagi Helicoverpa armigera. Digunakan sebagai insektisida terutama untuk mengendalikan H. armigera, pada berbagai jenis tanaman seprti kapas, sayuran (kubis, tomat, kapri) dan tanaman hias (mawar). HaNPV juga mempunyai efek terhadap larva Lepidoptera dari famili Noctuidae lainnya. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan.

Dapat digunakan bersama insektisida lainnya, yang tidak bersifat mengusir (repellent) Helicoverpa. Jangan digunakan bersama senyawa yang bersifat oksidator yang kuat, asam, basa dan jangan dicampur air yang mengandung klorin.

 
Virus ini spesifik menyerang invertebrata, tidak ada catatan bahwa virus ini menginfeksi vertebrata. Virus tidak menginfeksi dan tidak berkembang biak pada tubuh mamalia dan tidak aktif pada temperatur >32oC. Tidak ada bukti bahwa virus ini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna HaNPV.


Helicoverpa zea nucleopolyhedrovirus (HzNVP)

HzNVP digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untuk mengendalikan larva serangga dari genus Helicoverpa dan Heliothis, seperti Helicoverpa zea dan Heliothis virescens, pada sayuran, tanaman hias, tomat dan kapas. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan.

Virus ini spesifik menyerang invertebrata, tidak ada catatan bahwa virus ini menginfeksi vertebrata. Virus tidak menginfeksi dan tidak berkembang biak pada tubuh mamalia dan tidak aktif pada temperatur >32oC. Tidak ada bukti bahwa virus ini menyebabkan keracunan akut, iritasi mata maupun kulit. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna HzNPV (Copping, 2001).

 
Lymantria dispar nucleopolyhedrovirus (LdNPV)


Pertama kali diisolasi dari larva gypsy moth (Limantria dispar) yang terinfeksi oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), dan diregistrasi oleh US-EPA (United States Environmental Protection Agency) tahun 1978. Digunakan sebagai insektisida biologi terutama di bidang kehutanan dan juga tanaman hias untuk mengendalikan larva gypsy moth (Limantria dispar). Diaplikasikan dengan cara disemprotkan.

Jangan dicampur dengan insektisida lain, juga jangan dicampur dengan oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin. Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna LdNPV. Disimpulkan sebagai non-toksik terhadap mamalia.


Mamestra brassicae nucleopolyhedrovirus (MbNPV)


Mamestra brassicae nucleopolyhedrovirus (MbNPV) merupakan penyakit alami dari ngengat kubis (Mamestra brassicae). Diiolasi pertama kali dari larva yang terinfeksi di Prancis oleh peneliti dari INRA, dan dikembangkan sebagai insektisida biologi oleh NPP (Natural Plant Protection). MbNPV digunakan untuk mengendalikan Mamestra brassicae, Helicoverpa armigera, Phthorimaea operculella dan Plutella xylostella pada tanaman sayuran, kentang, Cruciferae dan tanaman hias. Diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada kanopi daun.


Kompatibel dengan produk perlindungan tanaman lainnya, asalkan tidak bersifat repellent bagi serangga sasaran. Jangan diaplikasikan bersama fungisida berbasis tembaga, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin. Gunakan air yang pH-nya netral.

Tidak nampak adanya reaksi alergik atau masalah kesehatan lainnya pada mereka yang terlibat dalam penelitian, produksi serta pengguna MbNPV. Tidak ada buksi virus ini menyebabkan keracunan akut maupun krinis, juga tidak menyebabkan iritasi mata dan kulit pada mamalia (Copping, 2001).


Mamestra configurata nucleopolyhedrovirus (McNPV)


Insektisida mikrobiologi, digunakan untuk mengendalikan Mamestra configurata (berta armyworm)

Neodiprion sertifer nucleopolyhedrovirus (NsNPV)


Insektisida mikrobiologi, digunakan untuk mengendalikan Neodiprion spp. di bidang kehutanan.


Orgya pseudotsugata nucleopolyhedro virus (OpNV)


Insektisida biologi, digunakan untuk mengendalikan hama Orgya pseudotsugata.

 

Spodoptera exigua nucleopolyhedro virus (SeNPV)


Virus ini merupakan penyakit bagi Spodoptera exigua yang luas terdapat di alam (juga di Indonesia). Diproduksi dari larva Spodoptera exigua yang terinfeksi virus pada kondisi yang terkendali. Virus kemudian dipisahkan dari bangkai larva dengan cara sentrifugal. Sebagai insektisida biologi, SeNPV khusus digunakan untuk mengendalikan latva Spodoptera exigua (ulat bawang) pada berbagai tanaman, seperti sayuran, kapas, tanaman hias, anggur dsb.


SeNPV kompatibel dengan kebanyakan pestisida lainnya yang bukan repellent bagi Spodoptera exigua. Jangan digunakan bersama fungisida berbasis tembaga, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin.


Tidak ada kejadian bahwa SeNPV menyebabkan keracunan, infeksi atau iritasi pada mamalia. Tidak ada respon alergi atau gangguan kesehatan lain yang disebabkan oleh penggunaan SeNPV, baik pada petani, pekerja atau pekerja pabrik.

image


Gambar 05: Gejala khas ulat (Spodoptera spp.) yang mati karena virus SeNPV (dari Shepard, dkk.; IRRI)


Spodoptera litura nucleopolyhedro virus (SlNPV)


Virus ini merupakan penyakit bagi Spodoptera litura yang luas terdapat di alam (juga di Indonesia). Diproduksi sebagai insektisida biologi dari larva Spodoptera litura yang terinfeksi virus pada kondisi yang terkendali. Virus kemudian dipisahkan dari bangkai larva dengan cara sentrifugal. SlNPV khusus digunakan untuk mengendalikan latva Spodoptera litura (ulat grayak) pada berbagai tanaman, seperti sayuran, kapas, tanaman hias, anggur dsb.


SlNPV kompatibel dengan kebanyakan pestisida lainnya yang bukan repellent bagi Spodoptera litura. Jangan digunakan bersama fungisida berbasis tembaga, oksidator yang kuat, asam, basa dan air yang mengandung klorin.


Tidak ada kejadian bahwa SlNPV menyebabkan keracunan, infeksi atau iritasi pada mamalia. Tidak ada respon alergi atau gangguan kesehatan lain yang disebabkan oleh penggunaan SlNPV, baik pada petani, pekerja atau pekerja pabrik.


Insektisida Mikrobiologi: Protozoa


Beberapa spesies protozoa (dari kelompok Mikrosporidium) ternyata juga menyebabkan penyakit pada serangga, yang bisa mengakibatkan kematian serangga sasaran. Sejauh ini 2 spesies telah diproduksi secara komersial


Nosema locustae Canning

Nosema locustae diproduksi sebagai insektisida biologi dari rearing in vivo pada tubuh belalang, dan digunakan terutama untuk mengendalikan belalang. Paling efektif untuk mengendalikan larva belalang instar 2 dan 3 yang belum bersayap.
Protozoa ini harus dimakan terlebih dahulu supaya bekerja. Dalam usus belalang spora Nosema akan berkecambah dan menginfeksi tubuh serangga sehingga menyebabkan kematin.


Respons belalang terhadap infeksi Nosema bermacam-macam. Beberapa diantaranya akan mati segera setelah infeksi, dan lainnya akan menjadi lemah dan lunak (sluggish). Belalang yang lemah ini sering dimakan oleh kawannya yang masih sehat (kanibalisme), sehingga belalang yang memakan tersebut juga akan terinfeksi Nosema. Infeksi oleh Nosema dapat diturunkan ke generasi belalang selanjunya lewat telur. Sekali mantap pada suatu populasi belalang, Nosema biasanya dapat bertahan sepanjang tahun.

 
Nosema merupakan penyakit Protozoa (Microsporidium) yang dapat menginfeksi sekitar 60 spesies belalang yang berbeda. Nosema locustae dianggap sebagai tidak beracun terhadap mamalia. Tidak menimbulkan iritasi, tidak terakumulasi dan tidak berkembang biak pada kelinci. LD50 oral (tikus) >5000 mg/kg. Toksisitas formulasi EPA kelas IV.

Vairimorpha necatrix (Kramer) Piley


Pertama kali dilaporkan sebagai penyakit pada ulat Pseudaletia unipuncta (semacam ulat grayak) di Hawaii. Insektisida biologi digunakan untuk mengendalikan serangga hama dari ordo Lepidoptera, seperti Helicoverpa, Ostrinia, Spodoptera dan Tricliplusia, pada berbagai tanaman, termasuk jagung, kedelai, kapas, dan tanaman sayuran.

 


Insektisida Mikrobiologi: Nematoda


Beberapa spesies nematoda, terutama dari Genus-genus Heterorhabditis (Heterorhabditidae) dan Steinernema (Steinernematidae) diketahui merupakan parasit bagi sejumlah serangga hama. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri tertentu (Heterorhabditis dengan bakteri Photorhandus, dan Steinernema dengan bakteri Xenorhabdus spp), yang tidak menyebabkan kerugian apapun bagi nematoda, tetapi merupakan patogen (penyebab penyakit) bagi serangga sasaran.

Apabila nematoda memasuki tubuh serangga hama sasaran (melalui salah satu lobang alami seperti mulut, anus, dsb. Atau lewat kulit), di dalam tubuh serangga keluarlah bakteri yang berada dalam tubuh nematoda tersebut, dan racun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri tersebut akan membunuh serangga dalam beberapa jam (hingga 48 jam). Sediaan yang diproduksi secara komersial hanya berisi larva nematoda stadia 3, karena hanya larva stadia inilah yang dapat hidup di luar tubuh serangga, sebab mereka tidak perlu makan. Nanti, sesudah serangga sasaran mati, bakteri yang bersimbiose dengan nematoda akan menghancurkan bangkai serangga menjadi materi yang dapat dimakan oleh larva stadia 4, yang akan berkembang dalam sisa-sisa bangkai serangga. Larva stadia 4 ini akan tumbuh menjadi nematoda hermafrodit yang dapat bertelur masing-masing hingga 1500 butir. Telur ini akan menetas menjadi nematoda jantan dan betina, yang selanjutnya akan berbiak secara seksual. Bila makanan tersedia, sesudah kawin nematoda jantan mati, dan yang betina akan bertelur dalam bangkai serangga. Tetapi bila makanan tidak tersedia, larva stadia 1 dan 2 akan berkembang dalam bangkai serangga, dan ketika mencapai stadia 3 mereka akan keluar dari bangkai serangga untuk mencari inang (serangga) baru.


Nematoda Heterorhabditis dan Steinernema merupakan parasit serangga yang sangat agresif. Larva instar 3 dapat bergerak beberapa puluh cm untuk mencari inang baru (Copping, 2001).


Telah diketahui ada 10 spesies Steinernema dan 3 spesies Heterorhabditis dapat dimanfaatkan sebagai insektisida. Kedua genus ini mempunyai beberapa kelebihan sehingga banyak dikembangkan sebagai insektisida biologi, yakni (Habazar & Yaherwandi, 2006).

  1. Mempunyai kisaran inang yang cukup luas
  2. Mampu membunuh inang dalam waktu 48 jam
  3. Dapat dibiakkan dalam media buatan
  4. Tidak ada inang yang resisten terhadap nematoda ini
  5. Aman terhadap lingkungan.


Beberapa spesies nematoda yang telah diproduksi secara komersial adalah sebagai berikut:


Heterorhabditis bacteriophora Poinar


Insektisida mikrobiologi ini dahulu diketahui sebagai Heterorhabditis heliothidis, mula-mula diketemukan di Eropa dan Amerika Utara, tetapi sekarang tersebar luas sebagai nematoda penghuni tanah. H. bacteriophora efektif untuk mengendalikan berbagai serangga tanah seperti Popillia japonica, Phyllopertha horticola, Hoplia philanthus, Otiorhynchus sulcatus, pada berbagai tanaman pertanian, tanaman hias dan lapangan rumput. Heterorhabditis bacteriophora bersimbiose dengan bakteri Photorhabdus luminescens.

 
Diaplikasikan sebagai kocoran (drenching) pada tanah dimana serangga sasaran berada. Diperlukan suhu tanah tidak kurang dari 12oC dan suhu udara antara 12 – 30oC hingga 2 minggu sesudah aplikasi. Dapat juga disemprotkan pada kanopi daun dengan volume tinggi, tetapi jangan sampai run-off.

Dapat dicampur dengan insektisida, tetapi jangan dicampur dengan fungisida benzimidazole, oksidator yang kuat, asam dan basa. Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan H. bacteriophora. LD50 dermal (tikus) >2000 mg/kg bb.


Heterorhabditis megidis Poinar, Jackson & Kein


Insektisida biologi ini juga terdapat luas sebagai nematoda tanah. Isolat-isolat UK 211 dan HW79 telah diproduksi secara komersial untuk mengendalikan serangga tanah seperti Otiohrynchus sulcatus (vine weevil) pada sayuran dan tanaman hias. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Photorhabdus temperata.

Diaplikasikan sebagai kocoran pada tanah. Lahan yang dikocor harus lembab pada saat pengocoran, namun harus dapat dikeringkan sesudah pengocoran. Suhu tanah antara 12 – 30oC pada saat, dan 2 minggu sesudah, aplikasi.


Tidak kompatibel dengan insektisida tanah, oksidator yang kuat, asam dan basa.


Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan H. megidis.


Steinernema carpocapsae Weiser


Nematoda yang bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus nematophilus ini dahulu dikenal denagn nama Neoaplectana carpocapsae. Mula-mula dijumpai di Eropa, tetapi sekarang tersebar di seluruh dunia. Digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untuk mengendalikan vine weevil (Otiorhynchus sulcatus), dan serangga tanah lainnya seperti Agrotis spp, anjing tanah (orong-orong, Gryllotalpa spp.), Tipula spp., ulat grayak (Spodoptera spp.), penggerek batang, dan sebagainya; pada tanaman sayuran dan tanaman hias.

 
Diaplikasikan sebagai drenching secara merata pada tanah yang diperlakukan. Tidak dapat hidup pada pupuk kandang. Perlu kelembapan tinggi dan temperatur diatas 15oC agar efektif. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa.

Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan S. carpocapsae.

 

Steinernema feltiae Filipjev


Dahulu dikenal sebagai Neoaplectana bibionis, N. Feltiae, N. Leucaniae, Steinernema bibionis. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus bovienii. Isolat UK 76 digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untuk mengendalikan beberapa spesies lalat (Bradysia spp., Lycoriella spp., Sciara spp.) dan beberapa serangga tanah lainnya pada sayuran dan tanaman hias, strawberry, serta budidaya jamur.


Diaplikasikan sebagai drenching secara merata pada tanah yang diperlakukan. Tidak dapat hidup pada pupuk kandang. Perlu kelembapan tinggi dan temperatur antara 10-30oC agar efektif. Tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa.


Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan S. feltiae.

Steinernema glaseri (Steiner)


Produk komersial mengandung S. glaseri isolat B-326 yang diisolasi dari tanah di New Jersey, Amerika Serikat, digunakan sebagai insektisida mikrobiologi untuk mengendalikan lundi (uret) dari kumbang Scarabaeidae pada lapangan rumput (turf). Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus poinarii.


Diaplikasikan dengan cara kocoran di tanah. Tanah harus lembab dan suhu antara 15 – 35oC (terbaik antara 25 – 35oC). Kompatibel dengan pestisida biologi dan pestisida kimia pada umumnya, tetapi tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa.


Steinernema kraussei (Steiner) Travassos

Produk insektisida mikrobiologi komersial mengandung S. kraussei isolat L-137, digunakan untuk mengendalikan larva (uret) dari vine weevil (Otiorinchus sulcatus), dan serangga tanah lainnya pada sayuran, tanaman hias dan strawberry. Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus spp.


Diaplikasikan dengan cara kocoran di tanah. Kompatibel dengan pestisida biologi dan pestisida kimia pada umumnya, tetapi tidak kompatibel dengan oksidator yang kuat, asam dan basa. Tidak ada laporan mengenai reaksi alergi atau reaksi negatif lainnya pada orang-orang yang terlibat dalam riset, produksi dan penggunaan S. kraussei serta bakteri yang hidup bersamanya.


Steinernema riobrave Cabanillas, Pionar & Raulston


Nematoda ini hidup bersama bakteri Xenorhabdus spp., seagai insektisida biologi digunakan untuk mengendalikan berbagai serangga tanah.


Steinernema scapterisci Nguyen & Smart


Nematoda ini bersimbiose dengan bakteri Xenorhabdus spp., digunakan untuk mengendalikan orong-orang (Gryllotalpa spp.)

 


Daftar Pustaka

  • Anonim (2006): Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Depatemen Pertanian Republik Indonesia.
  • Anonim: Bacillus thuringiensis. Wilkipedia,
    http;//www.wilkimediafoundation. org/
  • Baehaki, Dr. Ir. SE (1993): Insektisida Pengendalian Hama Tanaman. Angkasa, Bandung.
  • Beattle, GAC; O. Nicetic, AS. Kalianpur dan Z. Hossain (2004): Managing Resistance with Horticultural Mineral Oils. Some Example from Different Crop. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional Management Resistensi Pestisida dalam Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu. UGM, Yogyakarta, 24-25 Februari 2004.
  • Copping, LG (editor, 2004): The Manual of Biocontrol Agents. BCPC
  • Extoxnet (1996): Abamectin. Extesion Toxicology Network. http://npic.orst.edu/
  • Fisher, Hans-Peter, et al (1922): New Agrochemicals Based on Microbial Metabolites: New Biopesticides. Proceeding of the ’92 Agricultural Biotechnology Symposium on Biopesticides, Korea, September 1992
  • Flint, Mary Louis dan Robert Bosch (1991): Pengendalian Hama Terpadu, Sebuah Pengantar. Edisi terjemahan Indonesia, Kanisius, Yogyakarta.
  • Habazar, Prof. Dr. Ir. Trimurti, dan Dr. Ir. Yaherwandi Msi (2006): Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas University Press, Padang.
  • Luthy, P (1993): Tailor-Made Insect Control with Bacillus thuringiensis. Insect Control No. 20, May 1993.
  • Novizan, Ir. (2002): Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. AgroMedia Pustaka, Jakarta.
  • NPTN: Bacillus thuringiensis, General Fact Sheet. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/
  • NPTN: Pyrethrin & Pyrethroid. National Pesticide Telecommunications Network. http://nptn.orst.edu/
  • Pitterna, Thomas (1997): Macrolides as Pest Control Agents: Avermectin and Milbemycins. Insecticide Newsletter No. 3, December 1997
    40
  • Shepard, B.M.; dkk (1987): Friends of Rice Farmer. Helpful Insects, Spiders, and Pathogen. International Rice Research Institute. Los Banos, Laguna, the Philippines.
  • Singleton, Paul; dan Diana Sainsbury (19981): Dictionary of Microbiology. John Wiley & Sons.
  • Tomlin, CDS (editor, 2001): The Pesticide Manual. BCPC
  • Wood, Alan (1995-2007): Compendium of Pesticide Common Name: Insecticides. http://www.alanwood.net.

 

Semoga artikel yang kami sampaikan tersebut bisa memberikan informasi yang rekan-rekan butuhkan tentang insektisida mikrobiologi. Jangan lupa cerita tentang insektisida dan akarisida alami dari Panut Djojosumarto belum selesai kami postingkan, nantikan postingan terakhir dari Gerbang Pertanian tentang Insektisida dan Akarisida alami yang ke III.

 

Salam sukses buat petani Indonesia!!

Maspary


Terimakasih telah berkunjung ke Gerbangpertanian.com, jika ingin melengkapi artikel ini silahkan tulis di kolom komentar. Jika anda menyukai artikel ini bagikan ke rekan-rekan anda dengan mengklik tombol suka dibawah ini..

1 comments:

Anonymous said...

pak saya telah mengaplikasi bakteri bacillus thuringiensis varietas aizawa pada tanaman kembang kol saya, pertanyaanya apakah bakteri tersebut berbahaya bagi manusia apa tidak, sebab saya masih ragu menggunakannya karna di bungkusnya berisi peringatan tentang itu.

Post a Comment