Thursday, January 12, 2012

ANTIBIOTIKA

 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

Salam Pertanian !! Tidak terasa kita telah sampai pada pengujung artikel tentang fungisida dan bakterisida alami dari Panut Djojosumarto. Pada artikel yang lalu kita telah membahas tentang  fungisida dan bakterisida nabati, bagi rekan-rekan Gerbang Pertanian yang belum membacanya silahkan dibaca terlebih dahulu. Sedangkan kali ini pada bab yang terakhir maspary akan memosting artikel tentang Antibiotika.

Menurut maspary antibiotika memang belum terbiasa dipraktekkan oleh para petani dalam pembuatannya, akan tetapi kalau penggunaannya saya kira sudah biasa. Sebagai contoh para petani padi sudah tidak asing lagi dalam penggunaan kasugamisin untuk mengendalikan blast pada tanaman padi mereka.

blast

 

ANTIBIOTIKA

Antibiotika, dalam artinya yang mula-mula, adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang, pada konsentrasi rendah (mikrogram/mililiter), mampu menghambat atau membunuh mikroorganisme lain. Istilah ini digunakan pertama kali oleh Waksman pada tahun 1940an. Namun belakangan istilah antibiotika juga meliputi produk-produk yang secara kimiawi mirip, yang merupakan hasil dari sintesa di laboratorium (antibiotika sintetik) (Singleton & Sainsbury, 1981).

Antibiotika pertama, penicillin, pertama kali diketamukan pada tahun 1929 oleh Alexander Fleming. Penicillin adalah zat bioaktif yang diisolasi dari jamur Penicilium notatum melalui suatu proses fermentasi. Senyawa kimia tersebut ternyata mampu membunuh sejumlah bakteri yang menjadi penyebab penyakit infeksi pada manusia. Penemuan penicillin menimbulkan revolusi besar dalam dunia kedokteran, karena banyak penyakit infeksi pada manusia yang semula susah diobati menjadi tidak terlalu menakutkan lagi. Atas jasa-jasanya itu, A. Fleming mendapatkan Hadiah Nobel pada tahun 1945. Menyusul sukses tersebut, antibiotika-antibiotika lain kemudian diketemukan orang dari spesies-spesies mikroorganisme yang berbeda.

Antibiotika ternyata bukan hanya mampu membunuh bakteri, tetapi ternyata juga mampu membunuh jenis-jenis jamur. Oleh karena itu beberapa senyawa antibiotika juga digunakan sebagai fungisida dan bakterisida dalam bidang perlindungan tanaman, seperti blastisidin, kasugamisin, validamisin, dsb. Antibiotika pertanian dikelompokkan ke dalam beberapa sub-kelompok, seperti asam enopiranuronik, heksopiranosil, dan glukanopiranosil.

Sebagai fungisida, antibiotika dikelompokkan kedalam golongan fungisida yang hanya menghambat satu proses metabolisme jamur (monosite inhibitor), yakni menghambat sintesa protein.

Enopyranuric Acid

Blastisidin-S

  • Penjelasan singkat: Fungisida antibiotika ini diperoleh dari fermentasi Streptomyces griseochromogenes, pertama kali ditemukan oleh K. Fukunaga dkk., pada tahun 1955. Efikasinya sebagai fungisida dilaporkan oleh T. Misato tahun 1959, dan strukturnya dibahas oleh N. Otake tahun 1967. Dalam bentuk garam benzylaminobenzenesulfonate diintroduksikan oleh Kaken Chemical Co., Ltd, Kumiai Chemical Industry Co., Ltd., dan Nihon Nohyaku Co., Ltd.
  • Penyakit yang dapat dikendalikan: Dalam bentuk benzilaminobenzensufonat, blastisidin-S digunakan untuk mengendalikan penyakit blast (bercak belah ketupat, Pyricularia oryzae) pada tanaman padi
  • Mode of action: Blastisidin-S merupakan fungisida kontak yang diaplikasikan secara protektif dan kuratif; dan bekerja sebagai menghambat sintesa protein.
  • LD50 oral: Tikus jantan 56,8 mg/kg bb, tikus betina 51,9 mg/kg bb.
  • LD50 dermal: >500 mg/kg bb (kelinci).
  • NOEL: Tikus (2 tahun) 1 mg/kg pakan.
  • Klasifikasi toksisitas: WHO (bahan aktif) kelas Ib, EPA (formulasi) kelas II.
  • Lain-lain: Bersifat fitotoksik pada beberapa tanaman seperti alfalfa, kentang, kedelai, tembakau dan tomat. Kelebihan dosis dapat menyebabkan bercak kekuningan pada tanaman padi. Diformulasi dalam bentuk garam benziaminobenzensulfonat untuk mengurangi efek fitotoksiknya.

Hexopyranocyl

Kasugamisin dan kasugamisin hidroklorida

  • Penjelasan singkat: Kasugamisin ditemukan oleh H. Umezawa dkk. (1965), sifat fungisidanya dilaporkan oleh T. Ishiyama dkk (1965) dan diperkenalkan oleh the Institute of Microbial Chemistry dan Hokko Chemical Industries. Pertama dipasarkan tahun 1965. Kasugamisin adalah antibiotik yang diisolasi dari kultur Streptomyces kasugaensis.
  • Penyakit yang dapat dikendalikan: Penyakit blast (Pyricularia oryzae) pada tanaman padi.
  • Mode of action: Kasugamisin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein jamur.
  • LD50 oral: >5.000 mg/kg (tikus) dalam bentuk hidroklorida hidrat
  • LD50 dermal: >2.000 mg/kg (tikus)
  • NOEL: 300 mg/kg diet (tikus, 2 tahun).
  • Klasifikasi toksisitas: WHO (bahan aktif) kelas U; EPA (formulasi) kelas IV.
  • Iritasi: Menyebabkan iritasi berat pada mata, tetapi tidak menyebabkan iritasi kulit.
  • Registrasi di Indonesia: Di Indonesia, kasugamisin dijual dengan nama dagang Kasumin 20 AS untuk mengendalikan penyakit blsat (Pyricularia oryzae) pada tanaman padi dan antraknosa (Colletotrichum capsici) pada tanaman cabai.

Oksitetrasiklin

  • Penjelasan singkat: Oksitetrasiklin, yang didapat dari fermentasi bakteri Streptomyces rimosus.
  • Penyakit yang dapat dikendalikan: Bakterisida sistemik untuk mengendalikan beberapa penyakit yang disebabkan oleh Erwinia spp., Pseudomonas spp., dan Xanthomonas spp.
  • Registrasi di Indoenesia: Oksitetrasiklin (teramisin) didaftarkan di Indonesia dengan nama dagang Bactocyn 150 AL untuk mengendalikan penyakit layu bacteria (Ralstonia solanacearum) pada tanaman cabai.

Glucanopyranocyl

Streptomisin

  • Penjelasan singkat: Streptomisin diisolasi sebagai sesquisulfat dari Streptomyces griseus. Streptomisin merupakan fungisida sistemik dengan efek tambahan sebagai bakterisida.
  • LD50 oral: sebesar >10.000 mg/kg bb (tikus).
  • LD50 dermal: ) 325 mg/kg bb (mencit betina) - 400 (mencit jantan) mg/kg bb
  • NOEL: 125 mg/kg berat badan.
  • Registrasi di Indonesia: Streptomisin sulfat didaftarkan di Indonesia dengan nama dagang Agrept 20 WP untuk mengendalikan penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) pada tomat dan penyakit busuk basah (Erwinia carotovora) pada tanaman kubis.

Validamisin

  • Penjelasan singkat: Validamisin diisolasi dari kultur Streptomyces hygroscopius var. Limoneus. Fungisida antibiotika ini dipublikasikan oleh T. Iwasha dkk., dan dipasarkan oleh Takeda Agro Company (sekarang Sumitomo Chemical Takeda Agro Company). Dipasarkan di Jepang pada tahun 1972.
  • Penyakit yang dapat dikendalikan: Mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani pada beberapa tanaman.
  • Mode of action: Validamisin adalah fungisida nonsistemik dengan efek fungistatik yang bekerja dengan cara menghambat enzym trihalase pada cendawan.
  • LD50 oral: sebesar >20.000 mg/kg bb (tikus)
  • LD50 dermal: 5.000 mg/kg bb (tikus)
  • NOEL: 1000 mg/kg berat badan (tikus, 90 hari)
  • Klasifikasi toksisitas: WHO (bahan aktif) kelas U; EPA (formulasi) kelas III-IV.
  • Iritasi: Tidak menyebabkan iritasi kulit.
  • Registrasi di Indonesia: Validamisin terdaftar di Indonesia dengan nama dagang Validacin 3 AS untuk mengendalikan penyakit hawar pelepah daun Rhizoctonia solani pada tanaman padi dan busuk hitam Xanthomonas campestris pada kubis.

Lain-lain

Mildiomisin

  • Penjelasan singkat: Fungisida ini dihasilkan dari fermentasi Streptoverticillium rimofaciens strain B-98891.
  • Penyakit yang dapat dikendalikan: efektif untuk mengendalikan penyakit-penyakit embun tepung (Erysiphe sp., Podosphaera sp., dan Sphaerotheca sp.).
  • Mode of action: Bekerja dengan menghambat sintesa protein.
    Natamisin
  • Penjelasan singkat: Fungisida ini merupakan metabolit sekunder dari fermentasi Streptomyces natalensis dan S. chattanoogensis.
  • Penyakit yang dapat dikendalikan: Terutama efektif untuk mengendalikan busuk pangkal batang Fusarium oxysporum.

Polioksin B

  • Penjelasan singkat: Polioksin B dihasilkan dari fermentasi Streptomyces cacaoi var. asoensis.
  • Penyakit yang dapat dikendalikan: Efektif untu mengendalikan penyakit embun tepung (Sphaeroteca sp.), Botrytis, Sclerotina, Cochliobolus dan Alternaria.
  • Mode of action: Fungisida ini bersifat sistemik dan dapat diaplikasikan sebagai protektan. Polioksin menyebabkan pembengkakan abnormal dari kecambah (germ tube) spora dan ujung hifa. Diduga polioksin juga menghambat biosintesa dinding sel.

Polioksorim

  • Penjelasan singkat: Senyawa ini mula-mula diisolasi oleh S. Suzuki dkk., pada tahun 1965. Polioksorim merupakan metabolit sekunder dari fermentasi Streptomyces cacaoi var. Asoensis.
  • Penyakit yang dapat dikendalikan: fungisida untuk mengendalikan penyakit busuk pelepah daun padi (Rhizoctonia solani), dan beberapa cendawan patogen lainnya.
  • Mode of action: Polioksorin menyebabkan pembengkakan abnormal dari kecambah (germ tube) spora dan ujung hifa. Diduga polioksin juga menghambat biosintesa dinding sel. Polioksorim merupakan fungisida sistemik dengan aktifitas sebagai protektan.

Daftar pustaka

  • Anonim (2006): Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Depatemen Pertanian Republik Indonesia.
  • Baehaki, Dr. Ir. SE (1993): Insektisida Pengendalian Hama Tanaman. Angkasa, Bandung.
  • Copping, LG (editor, 2004): The Manual of Biocontrol Agents. BCPC
  • Habazar, Prof. Dr. Ir. Trimurti, dan Dr. Ir. Yaherwandi Msi (2006): Pengendalian Hayati Hama dan Penyakit Tumbuhan. Andalas University Press, Padang.
  • Harman, Gary E.: Trichoderma for Biocontrol of Plant Pathogens: From Basic Research to Commercialized Products. Cornell Community Conference on Biological Control, April 11-13, 1996. http://www.nysaes.cornell.edu/.
  • Harman, GE: Trichoderma spp., including T. harzianum, T. viride, T. koningii, T. hamatum and other spp. Deuteromycetes, Moniliales (asexual classification system). Cornell University. http://www.nysaes.cornell.edu/.
  • Ranasingh, N; A. Saurabh & M. Nedunchezhjyan: Use of Trichoderma in Diseases Management. Oryssa Review, September-October, 2006.
  • Singleton, Paul; dan Diana Sainsbury (19981): Dictionary of Microbiology. John Wiley & Sons.
  • Soesanto, Loekas (2008): Pengantar Pengendalian Hayati Penyakit Tanaman. Rajawali Pers, Jakarta
  • Tomlin, CDS (editor, 2001): The Pesticide Manual. BCPC
  • Wood, Alan (1995-2007): Compendium of Pesticide Common Name: Insecticides. http://www.alanwood.net.

Demikian artikel demi artikel tentang bakterisida dan fungisida alami yang merupakan sumbangan artikel dari Panut Djojosumarto. Sekali lagi maspary dan rekan-rekan petani Indonesia mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada beliau atas sumbangan ilmunya yang sangat penting ini. Semoga amal ibadah tersebut menjadi amal jariyah. Dan kami, maspary berserta Petani Indonesia masih sangat mengharapkan sumbangan artikel pertanian yang lain dari Bpk Panut Djojosumarto.

 

Salam tani !!!

 

Maspary


Terimakasih telah berkunjung ke Gerbangpertanian.com, jika ingin melengkapi artikel ini silahkan tulis di kolom komentar. Jika anda menyukai artikel ini bagikan ke rekan-rekan anda dengan mengklik tombol suka dibawah ini..

2 comments:

komeng liang said...

salam hotmat tulisan yang sangat berguna bagi saya juga keluarga kalo ada tulisan pembuatan pestisida/insektisida alami/organik (Hama Tungro pada tanaman padi) tolong kasih infonya..?

mitra tani makmur said...

terimakasih artikel nya masukan buat kami maju terus patani

Post a Comment