Sunday, December 30, 2012

MENGENDALIKAN HAMA UTAMA TANAMAN PADI

Salam Pertanian !! Hama tanaman padi merupakan salah satu kendala bagi petani untuk bisa meningkatkan produksi usaha taninya. Bahkan serangan hama tertentu seperti tikus dan wereng bisa mengakibatkan puso atau gagal panen. Oleh karena itu kita sebagai petani harus selalu waspada dengan adanya serangan hama. Maspary selalu mengajak para petani untuk selalu memonitoring lahan kita minimal 1 minggu sekali, bahkan kalau bisa 2 kali dalam satu minggu. Hal ini bertujuan agar kita bisa sedini mungkin mengetahui gejala serangan hama dan sedini mungkin mengambil tindakan pencegahan atau pengendalian. Di Gerbang Pertanian ini maspary ingin menyimpulkan saja beberapa hama penting pada tanaman padi beserta pengendaliannya pada berbagai fase pertumbuhan tanaman padi. Karena sebenarnya maspary telah membahas masing-masing hama tanaman padi tersebut beserta pengendaliannya secara mendetail di artikel Gerbang Pertanian yang telah lalu.

 

hama-utama-tanaman-padi

 

Berikut tips mengendalikan beberapa hama penting tanaman padi pada berbagai fase pertumbuhan :

A. Hama pada fase persemaian

  1. Wereng Coklat (Nilaparvata lugens).  Hama ini dapat menyebabkan tanaman padi mati kering dan tampak seperti terbakar atau puso, serta dapat menularkan beberapa jenis penyakit. Tanaman padi yang rentan terserang wereng coklat adalah tanaman padi yang dipupuk dengan unsur N terlalu tinggi dan jarak tanam yang  rapat merupakan kondisi yang disenangi wereng coklat. Beberapa varietas tertentu terutama ketan juga sangat rentan terhadap wereng. Pengendalian bisa dilakukan dengan penggunaan varietas tahan, pengurangan penggunaan pupuk N dan insektisida aplaud, mipcin, winder, konfidor, OBR, plenum dll
  2. Wereng Hijau (Nephotettix virescens). Hama wereng hijau merupakan hama penyebar (vector) virus tungro yang menyebabkan penyakit tungro. Fase pertumbuhan padi yang rentan serangan wereng hijau adalah saat fase persemaian sampai pembentukan anakan maksimum, yaitu umur ± 30 hari setelah tanam. Sama seperti wereng coklat pengendalian wereng hijau bisa dilakukan dengan penggunaan varietas tahan, pengurangan penggunaan pupuk N dan insektisida aplaud, mipcin, winder, konfidor, OBR, plenum dll
  3. Hama Putih Palsu (Chanaphalocrosis medinalis). Hama putih palsu menyerang bagian daun tanaman padi, larva akan memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Tanda pertama adanya infestasi adalah kehadiran ngengat di sawah. Ngengat berwarna kuning coklat, pada bagian sayap depan ada tanda pita hitam sebanyak tiga buah yang garisnya lengkap atau terputus. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segitiga. Pengendalian yang bisa dilakukan dengan pengeringan sawah selama 3 hari, atau penggunaan insektisida regent, buldok, decis, virtako dll
  4. Tikus Sawah (Rattus argentiventer). Tikus merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan dan dapat menyebabkan kerusakan besar apabila tikus menyerang pada saat primodia. Tikus akan memotong titik tumbuh atau memotong pangkal batang untuk memakan bulir gabah.
    Tikus menyerang pada malam hari dan pada siang hari tikus bersembunyi di lubang pada tanggul irigasi, pematang sawah, pekarangan, semak atau gulma. Pengendalian dilakukan dengan cara menggunakan musuh alami (tyto alba, ular, garangan dll), umpan racun, jebakan, gropyokan, pengemposan dll
  5. Keong Mas (Pomacea canaliculata). Keong mas merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang per tanaman. Waktu kritis untuk mengendalikan serangan keong mas adalah pada saat 10 hst atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah). Pengendalian dengan cara membuat parit disekeliling petak sawah lalu diberikan umpan daun-daunan dan menggunakan molusida baylucide, fatal, dll

B. Hama pada fase vegetatif

  1. Penggerek Batang (Tryporiza sp.). Adalah hama yang menimbulkan kerusakan dan menurunkan hasil panen secara nyata. Serangan yang terjadi pada fase vegetatif, daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuh dimakan larva penggerek batang. Pucuk tanaman padi yang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut (gejala ini biasa disebut Sundep). Apabila serangan terjadi pada fase generatif, larva penggerek batang akan memakan pangkal batang tanaman padi tempat malai berada. Malai akan mati, berwarna abu-abu dan bulirnya kosong/hampa. Malai mudah dicabutdan pada pangkal batang terdapat bekas gerekan larva penggerek batang (gejala ini biasa disebut Beluk). Pengendalian bisa dilakukan sejak dipesemaian dan dipertanaman umur 15 hst, 30 hst dan 40 hst dengan menggunakan regent, virtako, spontan, manuver dll
  2. Wereng Hijau (Nephotettix virescens). Hama wereng hijau merupakan hama penyebar (vector) virus tungro yang menyebabkan penyakit tungro. Fase pertumbuhan padi yang rentan serangan wereng hijau adalah saat fase persemaian sampai pembentukan anakan maksimum, yaitu umur ± 30 hari setelah tanam.
  3. Hama Ganjur (Pachydiplosis oryzae). Stadia tanaman padi yang rentan terhadap serangan hama ganjur adalah mulai dipersemaian sampai pada pembentukan malai. Gejala serangan ganjur adalah daun padi akan menggulung seperti daun bawang, sehingga tanaman yang terserang tidak dapat menghasilkan malai. Pengendalian bisa dilakukan dengan menggunakan regent, winder, konfidor, virtako, spontan, manuver dll
  4. Keong Mas (Pomacea canaliculata). Keong mas merusak tanaman dengan cara memarut jaringan tanaman dan memakannya, menyebabkan adanya bibit yang hilang per tanaman. Waktu kritis untuk mengendalikan serangan keong mas adalah pada saat 10 hst atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah).

C. Hama pada fase generatif

  1. Wereng Coklat (Nilaparvata lugens). Hama ini dapat menyebabkan tanaman padi mati kering dan tampak seperti terbakar atau puso, serta dapat menularkan beberapa jenis penyakit. Tanaman padi yang rentan terserang wereng coklat adalah tanaman padi yang dipupuk dengan unsur N terlalu tinggi dan jarak tanam yang merupakan kondisi yang disenangi wereng coklat. Hama wereng coklat menyerang tanaman pada mulai dari pembibitan hingga fase masak susu. Gejala serangan adalah terdapatnya imago wereng coklat pada tanaman dan menghisap cairan tanaman pada pangkal batang, kemudian tanaman menjadi menguning dan mengering.
  2. Wereng Hijau (Nephotettix virescens). Hama wereng hijau merupakan hama penyebar (vector) virus tungro yang menyebabkan penyakit tungro. Fase pertumbuhan padi yang rentan serangan wereng hijau adalah saat fase persemaian sampai pembentukan anakan maksimum, yaitu umur ± 30 hari setelah tanam. Gejala kerusakan yang ditimbulkan adalah tanaman kerdil, anakan berkurang, daun berubah menjadi kuning sampai kuning oranye.
  3. Penggerek Batang (Tryporiza sp.). Adalah hama yang menimbulkan kerusakan dan menurunkan hasil panen secara nyata. Serangan yang terjadi pada fase vegetatif, daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuh dimakan larva penggerek batang. Pucuk tanaman padi yang mati akan berwarna coklat dan mudah dicabut (gejala ini biasa disebut Sundep).Apabila serangan terjadi pada fase generatif, larva penggerek batang akan memakan pangkal batang tanaman padi tempat malai berada. Malai akan mati, berwarna abu-abu dan bulirnya kosong/hampa. Malai mudah dicabutdan pada pangkal batang terdapat bekas gerekan larva penggerek batang (gejala ini biasa disebut Beluk).
  4. Hama Ganjur (Pachydiplosis oryzae). Stadia tanaman padi yang rentan terhadap serangan hama ganjur adalah mulai dipersemaian sampai pada pembentukan malai. Gejala serangan ganjur adalah daun padi akan menggulung seperti daun bawang, sehingga tanaman yang terserang tidak dapat menghasilkan malai.
  5. Ulat Grayak (Armyworm). Hama ulat grayak menyerang tanaman dengan memakan daun dan hanya meninggalkan tulang daun dan batang. Larva ulat grayak menyerang tanaman padi sejak di persemaian sampai fase pengisian. Serangan akan parah saat musim kemarau dan tanaman kekurangan air. Pengendalian dilakukan saat malam hari dengan menggunakan larvin, virtako, dipel, turex dll
  6. Hama Putih Palsu (Chanaphalocrosis medinalis). Hama putih palsu menyerang bagian daun tanaman padi, larva akan memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Tanda pertama adanya infestasi adalah kehadiran ngengat di sawah. Ngengat berwarna kuning coklat, pada bagian sayap depan ada tanda pita hitam sebanyak tiga buah yang garisnya lengkap atau terputus. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segitiga.
  7. Tikus Sawah  (Rattus argentiventer). Tikus merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan dan dapat menyebabkan kerusakan besar apabila tikus menyerang pada saat primodia. Tikus akan memotong titik tumbuh atau memotong pangkal batang untuk memakan bulir gabah.
    Tikus menyerang pada malam hari dan pada siang hari tikus bersembunyi di lubang pada tanggul irigasi, pematang sawah, pekarangan, semak atau gulma.

D. Hama pada fase pemasakan

  1. Walang Sangit (Leptocorixa acuta). Walang sangit merupakan hama yang menghisap cairan bulir pada fase masak susu. Kerusakan yang ditimbulkan walang sangit menyebabkan beras berubah warna, mengapur serta hampa. Hal ini dikarenakan walang sangit menghisap cairan dalam bulir padi. Fase tanaman padi yang rentan terserang hama walang sangit adalah saat tanaman padi mulai keluar malai sampai fase masak susu. Pengendalian bisa dilakukan dengan menggunakan regent, manuver, virtako dll
  2. Tikus Sawah  (Rattus argentiventer). Tikus merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan dan dapat menyebabkan kerusakan besar apabila tikus menyerang pada saat primodia. Tikus akan memotong titik tumbuh atau memotong pangkal batang untuk memakan bulir gabah.
    Tikus menyerang pada malam hari dan pada siang hari tikus bersembunyi di lubang pada tanggul irigasi, pematang sawah, pekarangan, semak atau gulma.
  3. Ulat Grayak (Armyworm).  Sebenarnya larva ulat grayak bisa menyerang tanaman padi sejak di persemaian sampai fase pengisian. Serangan akan parah saat musim kemarau dan tanaman kekurangan air. Pada fase ini biasanya ulat grayak menyerang tanaman padi dengan cara memotong malai padi sehingga akan membuat kerugian yang sangat besar.
  4. Burung (Lonchura spp.). Burung menyerang tanaman pada fase masak susu sampai padi dipanen. Burung akan memakan langsung bulir padi yang sedang menguning sehingga menyebabkan kehilangan hasil secara langsung. Selain itu burung juga mengakibatkan patahnya malai padi. Pengendalian hama burung bisa dilakukan dengan cara pengusiran dengan membuat ajir berwarna merah disekitar sawah atau dengan menggunakan tali-tali yang dikasih kaleng/ plastik atau dengan menggunakan jaring.

Artikel diatas tentang pengendalian hama penting tanaman padi merupakan kesimpulan dari tulisan maspary yang terdahulu, oleh karena itu jika ingin mengetahui lebih detail silahkan diklik aja judul masing-masing hama tersebut. Tidak lupa maspary di Gerbang Pertanian ini berharap dan mengajak para rekan-rekan petani Indonesia untuk secara bijak mengendalikan serangan hama tanaman padi. Karena kalau kita sembarangan dalam mengendalikan hama terutama dalam penggunaan insektisida justru kita sendiri yang akan dirugikan. Banyak kasus serangan hama secara tiba-tiba yang telah menggagalkan panen kita seperti serangan wereng pada tahun lalu. Sekarang juga sudah banyak hama yang sudah tidak mempan lagi kita semprot dengan insektisida yang murah. Akhirnya kita juga yang kena dampak negatifnya, selain memerlukan biaya usaha tani yang lebih besar juga produktivitas padi kita akan turun. Sehingga kalau tidak didukung dengan harga gabah yang tinggi keuntungan kita akan semakin tipis.

 

Sukses Petani Indonesia !!

 

      Maspary

Sunday, December 23, 2012

MENGENDALIKAN HAMA KEPINDING TANAH/ KETUPLUK


Salam Tani !! Di Gerbang Pertanian  ini maspary  masih membahas hama tanaman padi. Tidak asing lagi bagi petani padi di Indonesia dengan hama ketupluk atau kepinding tanah. Hama yang berwarna hitam kadang ada yang agak kecoklatan yang hidupnya dipangkal batang padi ini mempunyai nama latin Scotinophora coarctata. Serangga ini mudah dijumpai saat bulan purnama dimana cahaya sangat terang dimalam hari dengan bau yang sangat busuk/ langu. Biasanya juga bisa dijumpai saat beterbangan disekitar sorot/ cahaya  lampu jalan yang terang.

Dari pengamatan maspary serangan hama kepinding tanah Scotinophora coarctata bisa terjadi pada fase vegetatif maupun generatif. Jika terjadi pada fase vegetatif akan berakibat berkurangnya jumlah anakan. Jika menyerang pada saat generatif atau pada saat bunting maka akan mengakibatkan malai padi pendek dan gabah menjadi hampa. Kepinding tanah / ketupluk menyerang dengan cara menghisap cairan pangkal batang tanaman padi pada .

 

kepinding-tanah-ketuplik

Biologi dan Morfalogi hama kepinding tanah/ ketupluk  Scotinophora coarctata :

Imago/Serangga Dewasa

  • Warna coklat kehitaman dan bila terganggu berbau khas menyengat
  • Lama bertelur 12-17 hari setelah kawin.
  • Umur imago 4-7 bulan hal ini disebabkan oleh umur inang, makin tua tanaman serangga makin berkembang dengan baik

Telur

  • Bentuk telur lonjong, berwarna merah jambu kehijau-hijauan
  • Letak telur berkelompok pada pangkat rumpun padi
  • Stadium telur 4-7 hari.

Nimfa

  • Warna nimfa coklat kekuningan.
  • Tidak bersayap.
  • Stadium nimfa 20-30 hari.

Dinamika populasi

  • Serangga dewasa mampu hidup dan berkembangbiak selama 2 musim.
  • Waktu musim kemarau serangga dewasa dapat bertahan pada bongkahan tanah yang berumput.
  • Pada saat cuaca baik dewasa terbang ke pertanaman dalam jumlah besar (lebih menyukai keadaan basah dan lembab)
  • Serangga dewasa menyukai intensitas cahaya yang tinggi dan mudah ditangkap pada saat bulan purnama.
  • Tanaman inang : Panicum, jagung Sceleria, Scirphus dan padi liar.
  • Kepinding tanah menyerang pada bagian batang padi.

Pengelolaan

  • Menurut maspary pembajakan tanah secara sempurna perlu segera  dilakukan setelah panen untuk mematikan telur, nimfa dan dewasa yang tinggal pada pangkal padi.
  • Selain itu pengeringan lahan sawah untuk menghambat perkembangan.
  • Sanitasi/ kebersihan lahan dan lingkungan dari tumbuhan inang rerumputan menurut maspary juga perlu dilakukan 
  • Pengalaman maspary penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama ketupluk/ kepinding tanah ini perlu selektif karena tidak semua insektisida mampu mengendalikannya. Jika memang terpaksa harus menggunakan insektisida maspary menyarankan gunakan insektisida daya racun pernafasan yang kuat seperti bahan aktif dari golongan piretroid sintetik. Contoh : bahan aktif alfa sipermetrin, delta metrin, sipermetrin dll

Musuh alami

  • Parasitoid telur : Scelionid
  • Predator telur ; Katak dan kadal
  • Predator telur,nimfa dan dewasa adalah kumbang Carabidae

 

             Salam tani !!

 

               Maspary

Sunday, December 16, 2012

MENGENDALIKAN HAMA PUTIH TANAMAN PADI

Salam Tani !! Untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang perbedaan hama putih palsu dan hama putih maka maspary memosting artikel dengan judul hama putih di Gerbang Pertanian ini. Kenapa di katakan hama putih, mungkin karena ngengatnya atau imagonya berwarna putih. Berbeda dengan hama putih palsu yang putih adalah gejala serangannya pada daun padi yang digerek klorofilnya.

Biasanya Hama putih (Nymphula depuntalis guenee) menyerang tanaman yang berumur lebih dari 6 minggu. Ciri khas yang bisa dilihat sebagai tanda hama putih adalah adanya tabung-tabung yang terbuat dari daun tanaman padi yang tergerek (terpotong) yang berisi larva dan kepompong yang digunakan untuk perlindungan diri dan penyebaran dalam mencari makan. Biasanya tabung-tabung tersebut banyak terapung di areal persawahan. Berbeda dengan hama putih palsu yang hanya menggulung tanaman tanpa memotongnya dan menggerek klorofilnya.

Cara pengendalian hama putih ( Nymphula depuntalis guenee) :

  1. Membersihkan rumput-rumputan yang merupakan tanaman inang hama putih( Nymphula depuntalis guenee). Tanaman inang hama putih diantaranya adalah rumput lempuyangan dan rumput asinan
  2. Cara pengendalian yang paling efektif menurut maspary adalah dengan cara mengeringkan lahan selama 5-7 hari. Karena larva dari hama putih ini bernafas dengan cara mengambil oksigen dari dalam air sehingga kalau dikeringkan hama ini akan kehilangan oksigen/ tidak bisa bernafas. Aneh ya…. hidup diudara tapi bernafasnya dalam air itulah bukti kekuasaan Alloh.
  3. Ada cara yang lain, yaitu mengumpulkan larva dan pupa hama putih tersebut lalu penguburnya.

Morfologi dan biologi hama putih ( Nymphula depuntalis guenee):

 

hama putih-nympula

Ngengat/Imago

  • Warna ngengat putih, panjang sayap 6 mm dan rentang sayap 15 mm
  • Muncul pada waktu malam hari dan tertarik cahaya

Telur

  • Bentuk bulat berwarna kuning muda
  • Telur diletakkan berkelompok pada daun atau pelepah yang berdekatan dengan permukaan air, jumlah telur 10-20 butir/kelompok.
  • Satu ekor ngengat dapat menghasilkan 50 butir telur
  • Stadium telur 2-6 hari

Larva/Ulat

  • Instar pertama berwarna krem dengan ukuran rerata panjang 1,2 mm dan  lebar 0,2 mm dan kepala berwarna kuning
  • Larva membuat gulungan dari daun yang dipotog dan tinggal dalam gulungan (tabung) tsb.
  • Setiap ganti kulit berganti tabung
  • Rerata stadium 20 hari dan mengalami 5 instar.
  • Instar dua berwarna hijau. Pada pertumbuhan maksimum panjang larva mencapai 14 mm dan lebar 1,6 mm

Pupa/Kepompong

  • Warna krem, menjelang menjadi ngengat warna menjadi putih
  • Pupa terbentuk dalam tabung.
  • Rerata stadium 7 hari.
  • Parasit pupa adalah Tetrastichus sp dan Apsilops cintroticus

Smoga artikel yang sederhana ini bisa berguna bagi petani maupun pembaca internet lain yang membutuhkannya.

 

Salam Tani

 

Maspary

Sunday, December 9, 2012

MENGENDALIKAN HAMA GANJUR (PENTIL)

Salam pertanian !! Jumpa lagi dengan maspary di Gerbang pertanian di topik “Mengendalikan hama ganjur (pentil)”. Mungkin rekan-rekan petani masih ada yang asing dengan hama ganjur ya ? Memang biasanya untuk hama ganjur ini punya nama daerah yang beda-beda. Beberapa istilah untuk hama ganjur antara lain : hama pentil, hama mentil, hama bawang, hama mendong, dengan nama latin Orseolia oryzae (Wood-Mason). Hama ganjur umumnya bukanlah merupakan hama utama padi di Indonesia. Hama ini hanya sedikit merugikan, sangat bersifat lokal, dan hanya terjadi pada musim-musim tertentu. Serangan ganjur dapat terjadi sejak pertanaman masih di pembibitan sampai tanaman mencapai fase primordia. Walaupun tidak begitu merugikan bagi petani padi tapi maspary tetap memosting artikel ini untuk sebagai sumber informasi dan penambah wawasan bagi Petani Indonesia.

Bioekologi hama ganjur Orseolia oryzae (Wood-Mason) :

Telur:
Berbentuk lonjong, berwarna putih bening sampai orange, panjang 0,5 mm dan lebar 0,2 mm.
Ngengat betina mampu bertelur 100 - 200 butir, telur diletakkan terpencar/dalam kelompok yang terdiri dari 3-4 butir. Sekitar 60-70% telur terletak pada pelepah daun dan sisanya pada helaian daun.

Larva:
Berwarna orange, panjang sekitar 1,3 mm, larva merayap menuju titik tumbuh melalui celah diantara jaringan titik tumbuh dan larva masuk dengan membentuk rongga, biasanya pada satu tunas dijumpai 1 larva.

Pupa:
Berwarna pucat dan pada saat menjelang imago akan berwarna merah jingga, pada pupa terdapat duri-duri, panjang pupa sekitar 2,5 mm, pra-pupa bergerak menuju ke arah ujung puru dengan menggunakan deretan duri pada tubuhnya.

Imago/ngengat:
Serangga dewasa ganjur menyerupai nyamuk kecil, tidak kuat terbang sehingga penyebaran sangat terbatas. Serangga ini aktif pada malam hari dan sangat tertarik cahaya.Berwarna merah cerah/merah kusam, ukuran sebesar nyamuk, siklus hidup 26-35 hari, aktif pada malam hari dan tertarik cahaya lampu.

Ngengat hidup dengan menghisap embun yang terdapat pada permukaan daun.
Nisbah kelamin jantan/betina adalah 4:1, betina hanya kawin sekali. Serangga ganjur hanya menyerang tanaman pada fase vegetatif, akibat serangan daun menjadi puru (pentil) dan tidak menghasilkan malai. Maspary berharap diawal musim hujan ini rekan-rekan Petani untuk waspada adanya serangan hama ganjur/ pentil karena biasanya serangga dewasa muncul pada awal musim hujan, sebelum berkembang biak pada tanaman padi serangga ganjur sudah melalui 1 atau 2 generasi pada rerumputan, satu musim dapat mencapai 3-4 generasi.

Imago-hama-ganjur

Gejala serangan hama pentil/ ganjur:

Gejala khas ganjur adalah tunas padi yang tumbuh menjadi bentuk pentil atau daun bawang, dengan panjang bervariasi, 15-20 cm. Anakan yang terserang ganjur tidak mampu menghasilkan malai. Larva serangga ganjur memakan tanaman padi pada titik tumbuh yang menyebabkan daun tumbuh berbentuk gulungan seperti daun bawang (puru/pentil). Pada titik tumbuh inilah larva makan dan berlindung sehingga titik tumbuh rusak. Timbulnya puru diduga disebabkan oleh senyawa kimia yang dihasilkan oleh larva pada saat memakan titik tumbuh.

Puru mulai tampak 3-7 hari setelah larva mencapai titik tumbuh, puru yang telah berkembang sempurna berdiameter 1-2 mm dan panjang 10 - 30 mm. Perkembangan optimum terjadi pada kelembaban nisbi 80% suhu antara 25 - 30 derajat C, cuaca mendung dan hujan gerimis. Serangan berat terjadi pada musim hujan terutama untuk tanaman yang terlambat tanam, umumnya dijumpai didaerah sawah irigasi maupun tadah hujan.

gejala-serangan-ganjur


Cara Pengendalian hama ganjur:

  1. Pengaturan tanam lebih awal sehingga pada saat kelembaban tinggi tanaman sudah masuk fase generatif. Upaya penanaman dini perlu dilakukan secara serentak. Ini merupakan pengendalian yang utama menurut maspary
  2. Atur jarak tanam supaya tidak terlalu rapat. Menurut maspary jarak tanam renggang  adalah 25 x 30 cm  dengan jumlah bibit 2 - 3 bibit.
  3. Penyiangan perlu dilakukan untuk menekan perkembangan hama ganjur. 
  4. Alternatif pengendalian yang lain terhadap hama ganjur menurut maspary adalah dengan lampu perangkap. Hama ganjur dewasa tertarik terhadap cahaya, oleh karena itu pasang lampu perangkap untuk menangkap ganjur dewasa.
  5. Bila terjadi serangan berat gunakan insektisida sistemik berbahan aktif fipronil atau dimehipo. Bisa juga gunakan insektisida granular yang berbahan aktif karbofuran dengan cara disebarkan.

(sumber:www.saungurip.blogspot.com

Untuk pertemuan yang akan datang maspary akan memosting tentang hama-hama penting tanaman padi. Untuk itu jangan lupa selalu berkunjung ke Gerbang Pertanian.  Dan tidak lupa maspary berharap smoga artikel tentang cara mengendalikan hama ganjur (pentil) ini bisa bermanfaat bagi Petani Indonesia.

Sukses Petani Indonesia !!

         Maspary

Sunday, December 2, 2012

MENGENDALIKAN HAMA PUTIH PALSU Cnaphalocrocis medinalis

Salam Tani !! Bagaimana kabar petani Indonesia ? semoga sehat dan sukses selalu. Jumpa lagi dengan maspary di blog Gerbang Pertanian. Masih seperti perjumpaan kita kemarin maspary masih akan membahas tentang hama tanaman padi kali ini maspary akan membahas hama putih palsu. Yah mumpung masih awal tanam barangkali petani membutuhkan informasi tersebut.

Walaupun hama putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis)  bukan hama utama dan hama yang membahayakan bagi tanaman padi akan tetapi serangan hama putih palsu tetap akan berdampak merugikan bagi petani. Dari pengalaman maspary serangan hama putih palsu terjadi pada saat tanaman masih dalam vase vegetatif (tanaman muda) walaupun tidak menutup kemungkinan juga kadang terjadi saat tanaman sudah keluar malai. Dan biasanya  menjadi serangan yang berarti bila kerusakan pada daun terjadi saat padi memasuki fase anakan maksimum dan fase pematangan mencapai > 50%.


Apakah daun tanaman padi anda tiba-tiba menjadi putih tipis dan banyak yang menggulung vertikal ? Jika ya, ini berarti merupakan gejala serangan hama putih palsu. Kerusakan akibat serangan larva/ ulat hama putih palsu terlihat dengan adanya warna putih pada daun di pertanaman. Larva  makan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun meninggalkan permukaan bawah daun yang berwarna putih. Siklus hidup hama ini berkisar 30-60 hari.

 

image

 

Sebelum terjadi serangan hama putih palsu biasanya diawali dengan kehadiran ngengat/ kupu-kupu berwarna kuning coklat yang memiliki tiga buah pita hitam dengan garis lengkap atau terputus pada bagian sayap depan. Pada saat beristirahat, ngengat berbentuk segi tiga. Jika di areal pertanaman kita kedatangan ngengat hama putih palsu seperti gambar dibawah ini maka kita harus waspada.

 

image

 

Kalau dibuat tabel bioekologi hama putih palsu adalah sebagai berikut :

 

bioekologi-hama-putih palsu

 

Cara mengendalikan hama putih palsu :

Untuk mengendalikan hama putih palsu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Serangan hama putih palsu jika dibiarkan biasanya akan berhenti dengan sendirinya dan jarang yang mengakibatkan gagal panen. Tanaman padi yang terserang hama ini dapat pulih apabila air dan pupuk dikelola dengan baik.
  2. Untuk mengurangi akibat serangan upayakan pemeliharaan tanaman sebaik mungkin agar tanaman bisa  tumbuh secara baik, sehat, dan seragam.
  3. Lakukan pengeringan untuk mengurangi kelembaban udara sekitar padi
  4. Gunakan insektisida (bila diperlukan) berbahan aktif fipronil atau dimehipo.

Dengan postingan tentang  mengendalikan hama putih palsu Cnaphalocrocis medinalis di atas maspary berharap bisa semakin memantapkan tehnik budidaya padi para petani Indonesia. Dan tentunya bisa menambah wawasan bagi petani padi.

 

Sukses Petani Indonesia !!

 

           Maspary