Sunday, January 27, 2013

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN AGENSIA HAYATI

 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

Salam Pertanian !! Maspary berkali-kali menulis tentang istilah agensia hayati beserta contoh dan manfaatnya bagi tanaman, ternyata ada beberapa rekan Gerbang Pertanian  yang belum tahu apa itu agensia hayati. Oleh karena itu dalam kesempatan kali ini maspary akan memosting tentang arti agensia hayati serta kelebihan dan kekurangan agensia hayati. Sehingga ketika maspary menulis tentang Trichoderma sp, Bacillus sp, Corynebacterium sp, Pseudomonas sp, Tricogramma sp, Bacillus turingiensis, Beauveria bassiana, Metarizium sp dll rekan-rekan gerbang pertanian sudah tahu bahwa itu semua termasuk agensia hayati.

Kondisi pertanian dewasa ini semakin memprihatinkan. Tanah semakin rusak akibat pemupukan kimiawi/sintetis yang tak berimbang, penggunaan pestisida sintetis yang berlebihan menyebabkan kerusakan ekosistem. Tentu dibalik kondisi ini masih ada semangat untuk kembali kepada pertanian yang sehat dan alami. Salah satunya adalah dengan cara penggunaan pestisida nabati dan agen hayati dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Pengendalian hayati akhir-akhir ini juga banyak mendapat perhatian dunia dan sering kali dibicarakan di dalam seminar atau kongres, serta ditulis dalam naskah jurnal atau pustaka, khususnya yang berkaitan dengan penyakit tanaman. Pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan agens pengendali hayati muncul karena kekhawatiran masyarakat dunia akibat penggunaan pestisida kimia sintetis. Adanya kekhawatiran tersebut membuat pengendalian hayati menjadi salah satu pilihan cara mengendalikan patogen tanaman yang harus dipertimbangkan (Soesanto, 2008).

Pengertian agens hayati menurut FAO (1988) adalah mikroorganisme, baik yang terjadi secara alami seperti bakteri, cendawan, virus dan protozoa, maupun hasil rekayasa genetik (genetically modified microorganisms) yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Pengertian ini kemudian dilengkapi dengan definisi menurut FAO (1997), yaitu organisme yang dapat berkembang biak sendiri seperti parasitoid, predator, parasit, artropoda pemakan tumbuhan, dan patogen.

Mengingat pentingnya pengembangan agen hayati dalam pertanian, Indonesia pun mengeluarkan definisi melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 411 tahun 1995, yaitu setiap organisme yang meliputi spesies, subspesies, varietas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma, serta organisme lainnya dalam semua tahap perkembangannya yang dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu, proses produksi, pengolahan hasil pertanian, dan berbagai keperluan lainnya.

 

AKAR-BAMBU-SUMBER-AGENSIA-HAYATI

Akar bambu sumber bakteri Pseudomonas sp yang bisa digunakan sebagai agensia hayati

 

Penggunaan agen hayati diyakini memiliki kelebihan karena sesuai dengan prinsip keseimbangan ekosistem. Memanfaatkan musuh alami dari hama dan penyakit pengganggu tanaman pertanian. Sebagai contoh pengalaman dari maspary sendiri dalam pengendalian penyakit layu pada tanaman cabai, tomat dan kentang, penggunaan fungisida dan bakterisida kimia sudah tidak mampu lagi mengendalikannya. Demikian juga dalam pengendalian penyakit kresek pada tanaman padi, corynebacterium masih jagonya.

AgenSIA Hayati memiliki kelebihan:

  1. Selektif, artinya mikroba dalam agen hayati tidak akan menyerang organisme yang bermanfaat bagi tumbuhan karena agen hayati hanya akan menyerang hama penyakit sasaran.
  2. Sudah tersedia di alam. Sebenarnya secara alami agen hayati sudah tersedia dialam, namun karena penggunaan pestisida yang tidak sesuai menyebabkan keseimbangan ekosistem mulai goyah dan populasinya terganggu.
  3. Mampu mencari sasaran sendiri, karena agen hayati adalah makhluk hidup yang bersifat patogen bagi organisme pengganggu, maka agen hayati dapat secara alami menemukan hama dan penyakit sasarannya.
  4. Tidak ada efek samping.
  5. Relatif murah.
  6. Tidak menimbulkan resistensi OPT sasaran.

Kekurangan agenSIA hayati:

  1. Bekerja secara lambat. Kondisi ini seringkali membuat petani tidak sabar menunggu hasilnya dan menganggap agen hayati tidak manjur. Akhirnya petani kembali beralih ke pestisida kimiawi.
  2. Sulit diprediksi hasilnya. Perkembangbiakan agen hayati setelah diaplikasikan sangat tergantung dengan ekosistem pada saat pengaplikasian. Jika kondisinya mendukung, maka pertumbuhan agen hayati akan maksimal.
  3. Lebih optimal jika digunakan untuk preventif, karena membutuhkan waktu untuk pertumbuhannya. Kurang cocok digunakan untuk kuratif, apalagi saat terjadi ledakan hama karena bekerja secara lambat.
  4. Penggunaan sesering mungkin.
  5. Pada jenis hayati tertentu sulit dikembangkan secara massal.

Setelah kita membahas tentang kelebihan dan kekurangan penggunaan agensia hayati maspary harapkan rekan-rekan gerbang pertanian lebih paham dengan karateristik dari agensia hayati sehingga tidak selalu menggantungkan kondisi tanamannya pada bahan kimia. Kecuali ketika sudah terjadi serangan yang akut atau parah mau tidak mau harus menggunakan bahan kimia. Tetapi yang perlu kita yakini adalah bahwa dengan penggunaan agensia hayati akan bisa menghemat penggunaan pupuk dan pestisida kimia.

 

Sukses selalu buat petani indonesia  !!

 

            maspary


Terimakasih telah berkunjung ke Gerbangpertanian.com, jika ingin melengkapi artikel ini silahkan tulis di kolom komentar. Jika anda menyukai artikel ini bagikan ke rekan-rekan anda dengan mengklik tombol suka dibawah ini..

1 comments:

Anonymous said...

Maaf pak, klo em4, mol, pgpr dicampur jd satu apa antar mikroorganisme'nya ada yang saling mematikan / bersaing ato malah bersimbiosis mutualisme? Dan efeknya ketanaman gimana?
Trimakasih

Post a Comment