Monday, April 28, 2014

KENDALA PELAKSANAAN PROGRAM PAT KEDELAI KABUPATEN BANYUMAS

 photo iklan posting BPBAG 517 x100_zpseeqcylwf.jpg

Kabupaten Banyumas tidak mau hanya berpangku tangan melihat kelangkaan kedelai di negara Indonesia khususnya Kabupaten Banyumas. Dibawah komando lansung Bapak Bupati Banyumas, Ir. Achmad Husein berupaya ikut mensukseskan swasembada kedelai melalui program PAT (perluasan areal tanam kedelai). Hal ini dibuktikan dengan menargetkan Kabupaten Banyumas akan menanam kedelai yang tidak sedikit yaitu 10.000 ha pada tahun 2014. “Kesuksesan program PAT adalah taruhan bagi seluruh warga Banyumas (bukan hanya petani)” itulah yang diungkapkan Bapak Bupati Banyumas.

kendala-program-PAT-kedelai-kabupaten-banyumas

Dengan senjata bantuan sosial sebesar 1.532.500/ ha, diharapkan dapat menjadi motivasi bagi petani pada pelaksanaan PAT tahun ini. Memang benar kata pepatah bahwa “hidup ini tak semudah yang dibayangkan tapi tak sesulit yang ditakutkan”, langkah-langkah awal pelaksanaan program perluasan areal tanam kedelai di Kabupaten Banyumas terlihat lancar dengan penuh semangat yang didukung oleh semua Dinas dan Badan Kabupaten Banyumas. Akan tetapi lambat laun mulai terlihat permasalahannya.

  1. Luas tanam yang tadinya ditakutkan tidak bisa memenuhi kuota justru berbalik 180 derajat. Sampai bulan maret justru harus terjadi pengurangan CPCL (calon petani calon lahan)areal tanam kedelai, karena daya dukung bansos 1,5 juta ternyata mampu mendongkrak antusias petani untuk tanam kedelai tanpa memperhitungkan resiko dari kondisi cuaca, tanah dan musim. Hal ini terbukti masih banyak benih kedelai yang numpuk dirumah kelompok tani yang belum tertanam. Bisa juga karena kurangnya koordinasi antara pengurus dan anggota kelompok tani sehingga pendataan yang kurang akurat. Belum lagi mungkin ada beberapa petani yang akan memanfaatkan momen ini (sing penting nampa bantuan, tandure ya embuh).
  2. Luasan areal tanam kedelai yang begitu luas mengakibatkan kebutuhan benih kedelai menjadi meningkat drastis. Apalagi salah satu persyaratan benih PAT haruslah benih kedelai berlabel, menjadikan petani semakin kesulitan memperoleh benih kedelai dipasaran. Kondisi ini tentu dapat dibaca jelas oleh para pedagang, yang menjadikan harga benih  jadi melambung dengan diikuti penurunan kualitas benih. Hal ini terbukti banyaknya benih yang ditanam petani memiliki daya tumbuh rendah dan kotoran benih lebih dari 7 %. Luar biasa, padahal persyaratan benih berlabel adalah daya tumbuh min 80 % dan kotoran minimal 2 %. Kok bisa berlabel ya ?
  3. Petani kurang memahami kondisi tanah dan cuaca pada lahan masing-masing. Tidak dibuatnya drainase sejak awal menjadikan benih kedelai yang ditanam menjadi terendam dan mati, akhirnya petani tiada pilihan lain kecuali untuk meluku/ mentraktor ulang sawahnya untuk ditanami padi. Apalagi daerah-daerah balong yang memang tidak bisa membuang air ketika hujan mau bagaimana lagi ?
  4. Gara-gara serangan hama wereng  pada musim kemarin mengakibatkan mundurnya waktu tanam maret/ april ini (petani merasa ragu untuk memulai tanam lagi) dan tentunya jika padi baru tanam bulan mei panen baru akan dilaksanakan sekitar agustus-september.  Jika tanam kedelai dilakukan akhir Agustus atau setelah itu maka kemungkinan berhasil sangat kecil mengingat kondisi cuaca yang kurang mendukung. Jadi pada poin ini bisa disimpulkan keberhasilan panen kedelai pada musim kedua (agustus-november) sangat diragukan.
  5. Kurangnya pengalaman petani saat panen kedelai dimusim hujan akan menjadi kendala tersendiri pada pengelolaan pasca panen. Jika curah hujan masih tinggi akan menmgakibatkan kesulitan bagi petani untuk pengeringan kedelai.

Kelima kendala tersebut hanyalah hasil kesimpulan dan pemikiran orang bodoh  dan awam seperti saya ini, oleh karena itu mohon maaf jika tidak sesuai dengan kenyataan. Tulisan ini dibuat bukan untuk memojokkan,  menjatuhkan atau mencemarkan nama baik pihak-pihak tertentu.

Dengan mengetahui berbagai kendala yang akan dihadapi tersebut tentunya petani bersama petugas akan lebih waspada dan lebih siap menghadapinya. Walaupun tidak mungkin keberhasilan program PAT kedelai ini berjalan mulus 100%, tapi setidaknya segala hambatan tersebut bisa diminimalisir atau diantisipasi  sedini mungkin.


Terimakasih telah berkunjung ke Gerbangpertanian.com, jika ingin melengkapi artikel ini silahkan tulis di kolom komentar. Jika anda menyukai artikel ini bagikan ke rekan-rekan anda dengan mengklik tombol suka dibawah ini..

0 comments:

Post a Comment